Kemajuan teknologi informasi dan runtuhnya privasi di dunia maya

Jakarta (JurnalPagi) – Maraknya kehidupan media sosial dalam satu dekade terakhir menggerogoti ruang privasi penggunanya. Isu-isu tabu yang seharusnya tidak ditampilkan di ruang publik diekspos dengan begitu leluasa.

Media sosial seolah menjadi dunia antah berantah tanpa aturan moral. Semuanya bisa diekspos, mulai dari harta, masalah ranjang, sampai masalah agama, orang dipukuli dan dikuliti berjamaah.

Dan ironisnya, media hiburan malah menjadi sumber berita untuk menghidupkan gosip media sosial yang menyemarakkan halaman timeline. Karya KPK bahkan “ditangkap” oleh penyidik ​​yang berkeliaran di dunia maya. Dengan jiwa bijaknya, mereka menyelidiki aset dan sumber kekayaan tokoh-tokoh populer. Seperti tajuk “Layak Tempat Tinggal Mewah, Pekerjaan Ayah AA Bocor”; “Ini Profil dan Biodata AD Pacar Bule NM”. Sebelumnya, N.M. dikabarkan bangkrut dan tidak memiliki TV di rumahnya. Sementara itu, artis VM juga ditanyai tentang pekerjaan dan kekayaannya, sementara suaminya FI menjelaskan segalanya mulai dari menganggur, tidak punya apa-apa, memiliki libido yang tinggi hingga berhubungan seks dengan istrinya setiap hari.

Selain membeberkan kekurangan orang lain, jangan lupa membumbuinya dengan membandingkan dan mengkontraskan yang ‘dulu’ dengan yang ‘sekarang’. Dengan semangat memecah belah, mereka memuji yang satu dan mengutuk yang lain. Perbuatan tanpa empati, tanpa peduli apakah hati seseorang terluka dan hubungan korban rusak karenanya.

Selain masalah harta dan tahta, juga diperiksa apa sebenarnya agama seseorang. Masih ingat penyanyi cilik yang viral tahun lalu karena menyanyi di Istana Negara saat perayaan Hari Kemerdekaan? Begitu di atas panggung dia ditanyai tentang agamanya dan anak laki-laki itu menjawab bahwa itu pribadi. Tak lama kemudian, tersiar kabar selama berminggu-minggu tentang dia “menyelidiki” apa sebenarnya agama FP. Ketika FP tidak mau menerima agamanya, langkah selanjutnya adalah bertanya kepada asistennya, anggota keluarga, dan tetangga.

Di episode lain, ada penyanyi LK yang biasa berjilbab, tapi melepasnya saat ada acara keluarga. Tiba-tiba, netizen dan media hiburan seolah-olah sedang menyiapkan materi ketiadaan. Kemudian terus menerus dan dengan mempertanyakan mengapa artis melepas jilbabnya, dia dipertajam dengan komentar dan penilaian yang menghakimi tentang kurangnya rasa hormat terhadap hati nurani LK dalam berhijab.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana pengguna internet dan media hiburan telah masuk jauh ke ranah privasi orang. Dan karena berita gosip yang disajikan tidak dianggap mendidik masyarakat, maka Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers menyatakan bahwa berita tersebut Informasi hiburan (hiburan) yang tidak termasuk dalam karya atau produk jurnalistik. Begitu pula orang yang bekerja mencari gosip tidak bisa disebut wartawan. Sementara itu, ormas Nahdat Ulama (NU) mengkategorikan berita tersebut Informasi hiburan Sebagai ketiadaan yang ilegal

Mencongkel kehidupan pribadi orang lain, dengan memuji atau meremehkan mereka secara berlebihan, adalah wajah sehari-hari dari media sosial dan media hiburan. Bahkan, seolah-olah menggantikan peran Tuhan, mereka menghakimi kesalahan orang lain, seperti masalah agama dan bagaimana menerapkan ajaran di dalamnya, antara manusia dengan Tuhannya. Benar atau salah, penilaiannya mutlak otoritas Tuhan.

Mencari rezeki dari akal

Ada beberapa orang terkenal yang bahkan mendapat manfaat dari berita tidak langsung tentangnya. Bukannya protes, ia malah sengaja mengumpan isu untuk menyulut berita. Jika kariernya mulai menurun, dia membuat gebrakan sehingga namanya muncul lagi dan tawaran pekerjaan mengalir. Ternyata, sebenarnya tidak sedikit orang yang menjadi kaya dengan cara menjadi kontroversial, bahkan salah satunya dengan menuruti keburukannya sendiri.

Virginia Storm, ilmuwan dari University of California, AS, mengungkapkan bahwa ada bagian otak di sisi kanan yang disebut Korteks cingulate anterior prenatal Pusat rasa malu didasarkan pada temuan ini, orang yang tidak merasa malu, kemungkinan menciptakan kondisi di bagian depan otak kanan tidak signifikan.

Ada yang suka berbusa dan ada yang menikmatinya sebagai bagian dari proses pemberian energi. Jangan salah, ada tipe orang yang seperti itu mengisi ulang energi denganketiadaan Aktivitas ketiadaan Itu bisa membuat hidup lebih menyenangkan. Begitu banyak selebritas media sosial yang memamerkan kehidupan pribadi mereka telah menjadi makanan lezat bagi para penguntit dan pecandu gosip.

Berbeda dengan selebriti yang narsis di media sosial, ada juga sejumlah public figure yang memutuskan untuk undur diri dari media sosial. Gangguan dalam kehidupan pribadi rata-rata adalah alasan utama. Perasaan bahwa mereka selalu diikuti dan privasi mereka diganggu membuat mereka tidak nyaman, seperti penyanyi pop Amerika Selena Gomez yang memilih menjauh dari internet dan media sosial karena merasakan betapa mengerikannya media sosial, orang-orang yang dapat mereka hancurkan. intimidasi. Gomez mengaku lebih sehat secara mental saat rehat dari media sosial.

Sementara Reza Rahadian, aktor asal Indonesia, tak hanya bermain di jejaring sosial. Tokoh Habibi dalam film “Habibi dan Ainun” bahkan tidak memiliki akun di jejaring sosial karena tidak tertarik untuk berkreasi dan berpartisipasi di dalamnya. Bagi Reza, menulis catatan lebih menarik ketimbang berbagi pemikiran dengan audiens di ruang maya. Presenter Sara Sechan pernah menyatakan berhenti menggunakan media sosial dengan dalih ingin kembali ke kehidupan nyata tanpa memikirkan orang lain.

Jejaring sosial memang seperti itu, seperti lautan yang menghasilkan buih. Siapa pun dapat berkomentar dengan atau tanpa pengetahuan yang cukup tentang apa yang sedang dijawab. Budaya buta huruf telah memicu kegilaan media sosial, seperti riak di sungai yang dangkal.

Media sosial sebagai penemuan dan indikator kemajuan di bidang teknologi informasi yang telah mengubah dunia dalam pola sosial, tentunya tidak bisa disalahkan atas apa yang dilakukan para penggunanya. Karena sejatinya, di tangan profesional, media sosial bisa menjadi sarana interaksi yang konstruktif. Jadi pengunggah dan konsumen unggahan di media sosial harus pandai membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.

Editor: Masukkan M. Astro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *