GUBERNUR JATENG SETUJU BATU AKIK JADI INDUSTRI KREATIF

Siapa yang tak kenal dengan Gubernur yang satu ini, sempat menjadi sorotan media dan mendapat apresiasi dari masyarakat karena saat blusukan dia mempergoki adanya pungli di daerah semarang. Ya beliau adalah Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo. Kini di era demam batu akik Gubernur yang satu ini juga tak mau ketinggalan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin agar motif dan kreasi batu akik makin dikembangkan. Saat ini, banyak karya yang terbentuk dari batu asli Indonesia itu menjadi pernak-pernik menarik.

Jum’at kemarin dia turut berkunjung ke pameran di purbalingga setelah melihat pameran batu akik tersebut beliau mengatakan bahwa “Batu akik ini industri yang dahsyat. Ini kan berawal dari hobi, kemudian berkembang. Batu klawing (nama sungai di Jawa Tengah) ini juga khas. Kami minta agar ini bisa dimasukkan dalam industri kreatif,”

Ganjar pun berharap pamor untuk tren batu akik ini terus berlanjut dan pemcinta batu harus pinter membuat kreasi batu akik agar lebih berkembang. Dan disaat itu juga Ganjar menantang agar pembuat batu akik juga bisa membentuk cincin wadah batu permata itu. Saat ini, cincin masih didatangkan dari negara lain, dan hanya batunya yang dikreasi oleh warga.

Dalam pameran batu akik di Purbalingga itu, akik yang dipoles dari batu klawing itu menjadi beragam motif. Hasil karya ada dalam bentuk batu akik berbagai jenis dan merek, akik bermotif gambar, liontin, kalung, dan gantungan kunci.

Bongkahan batu klawing itu juga dibuat dalam bentuk jam tangan, tasbih, bros, hingga berbentuk aksesori lain. Setidaknya, ada 1.500 jenis yang dihasilkan dari batu klawing tersebut.

Meski setuju batu akik menjadi industri kreatif, Ganjar mengingatkan agar para penambang batu akik mau diatur. Jangan sampai, ada potensi di suatu tempat langsung ditambang sehingga kondisi tempat tersebut rusak.

“Saya minta kepada bupati agar cara menambangnya diatur. Jangan sampai mengambil terus merusak alam. Nanti berkoordinasi dengan pengelola Balai Besar Sungai Serayu,” tuturnya.

Batu akik sendiri, lanjutnya, telah banyak ditemui di berbagai negara di Eropa. Setelah batu berhasil dipoles, pengelola kemudian mendapatkan sertifikat beserta nama batu tersebut.

“Saya sebenarnya tidak terlalu suka. Tapi, dalam hal menghormati karya, ini bagus untuk koleksi. Ini menunjukkan kekayaan,” paparnya. (Kontributor Semarang, Nazar Nurdin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons