PUTRI SARIDEVI GAGAL KIBARKAN BENDERA KARENA DIBUNUH AYAHNYA

putri saridevi dibunuh ayahnyaPada umumnya orang tua seharusnya menjadi tempat berlindung bagi setiap anak. Namun hal berbeda justru terjadi pada seorang gadis cantik berusia 16 tahun yang harus kehilangan nyawanya di tangan ayahnya sendiri.

Putri Saridevi adalah seorang siswa baru tercatat masuk Kelas 10 IPS 3 SMAN 1 Tumpang. Bahkan teman sekelasnya belum ingat betul dengan wajahnya. Karena sejak awal masuk, Putri menjadi salah satu calon pasukan pengibar bendera di Hari Kemerdekaan (Paskibraka) nanti. Putri harus mengikuti latihan setiap hari, sehingga tidak harus masuk sekolah.

Namun sayangnya Putri Saridevi gagal kibarkan bendera karena dibunuh ayahnya. Kabar mengejutkan ini tentu menimbulkan duka di hati teman-teman dan keluarganya.

“Saya belum mengenalnya, karena Putri ikut Paskibra, tapi sebagian teman sudah kenal, katanya tinggi dan cantik. Karena itu dipilih ikut Paskibra” kata Andri Kusuma Wardhana, teman satu kelasnya saat berkunjung ke rumah almarhumah, Selasa (4/8) kemarin.

Puluhan teman sekelas Putri datang menghaturkan rasa bela sungkawa ke ke rumah duka. Putri bersama ibunya, Wiwik Halimah menjadi korban pembunuhan oleh ayahnya. Mayat mereka dibakar dalam sebuah kamar, sebelum sang ayah berusaha bunuh diri.

Mereka ingin tahu kabar teman yang baru dikenal yang kini tertimpa musibah. Selama di lokasi, didampingi seorang guru mengamati kaca jendela pecah dan pintu rusak bekas dibobol warga.

Gambaran sosok Putri banyak terungkap dari luapan kemarahan warga atas ulah Abdullah. Mereka tidak rela remaja yang baru tumbuh itu dibunuh secara keji oleh ayah kandungnya.

“Bapak goblok, bocah ayune koyok ngono kok dipateni, sak ke yo Putri, bocae dhukur (anak cantiknya seperti itu kok dibunuh. Kasihan Putri, anaknya tinggi, cantik),” kata warga yang sedang bergerombol tepat di depan rumah Putri.

“Sakjane pegatan ae gak opo, timbangane mateni anak lan bojo (Sebenarnya cerai saja dari pada membunuh anak dan istri),” sahut warga yang lain.

Putri baru saja menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang ditutup dengan kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu). Beberapa orang mengenal secara akrab saat kegiatan MOS dan Persami.

“Saya satu tenda dengan Putri saat Persami. Dia orangnya lucu dan selalu ceria,” Betha Widia asal Tumpang.

Widia menjadi teman dekat dengan almarhumah dan sempat saling bertukar PIN BBM. Widia juga memiliki gambar putri selama masih hidup. Widia pun menunjukkan status BBM terakhir Putri yang menunjukkan ungkapan keceriaannya. “Pacar emang gak punya, tapi yang bikin bahagia ada aja,” demikian status BMM-nya.

“Pokoknya dia dia menyenangkan. Dia juga pernah cerita kalau pernah menjadi anggota OSIS saat masih di MTS,” katanya.

Kendati singkat, pertemanan itu menjadi kenangan bagi Bertha dan teman-temannya. Semua tidak menyangka begitu singkat persahabatan yang terjalin.

Lantaran Putri Saridevi gagal kibarkan bendera karena dibunuh ayahnya, mereka terpaksa harus mencari pengganti Putri. Namun hingga saat ini mereka belum tahu siapa yang akan mengantikan Putri mengibarkan Sang Merah Putih nanti.

Semua berharap Putri menjadi korban kekerasan terakhir yang dilakukan orang tua kepada anak. Semua masyarakat juga berharap Wiwik Halimah, menjadi perempuan terakhir yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons