DIANGGAP KETERLALUAN, PENGGUNA AKUN MEDIA SOSIAL RAMAI BICARAKAN OSPEK ATAU MOS DI INDONESIA

masa-orientasi-siswa-mos-ilustrasi-_110718135318-602Ramainya kritikan orang tentang kebiasaan di Indonesia yang hampir setiap kampus atau sekolah mewajibkan kegiatan ospek atau mos sebelum para mahaisiswa atau siswa-siswi yang akan mengenyam kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masyarakat banyak yang mengeluhkan hal ini karena berbagai alasan tertentu dan dianggap sudah keterlaluan dan mereka juga banyak yang membandingkan dengan kegiatan ospek atau mos dari negara tetangga terutama negara Singapura. Seperti pengguna akun media sosial Path bernama Hariyanto yang mengeluhkan Ospek di Indonesia, pria ini menyebut kegiatan ospek atau mos di Indonesia sangat kalah inspiratif di banding di Singapura

Cerita Hariyanto di Path diunggah ulang oleh sejumlah blog dan forum Internet. Dalam postingannya, Hariyanto menceritakan pengalamannya di mass rapid transit (MRT) Singapura.

Dia bercerita, saat berwisata ke Singapura, di stasiun MRT Hariyanto terkejut tiba-tiba dirinya diajak tos oleh sekumpulan remaja dengan wajah ceria. Ternyata mereka adalah mahasiswa baru Nanyang Technology University (NTU) yang sedang mengerjakan tugas ospek dari senior mereka.

Tanpa memakai atribut yang aneh-aneh. Tugas mereka adalah setiap hari, satu anak harus membuat 30 orang bahagia. Judulnya tugas mereka adalah Kindness Campaign. Mereka keliling Singapura untuk membantu bersih-bersih stasiun, terminal dan toilet umum. Mereka juga membantu para pekerja yang sudah manula.

Tos yang didapat Hariyanto tadi ternyata maksudnya adalah memberi semangat kepada para penumpang yang akan berangkat bekerja disertai dengan ucapan “semangat”.

“Tujuannya simpel saja, membuat orang tersenyum dan kembali bersemangat menjalani hari. Program tersebut mereka jalani selama sebulan lamanya,” tulis Hariyanto

Ospek alias Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus bagai Mahasiswa atau Mos alias Masa Orientasi Siswa untuk tingkat sekolah ini sering kali menjadi momok mengerikan bagi para mahasiswa atau siswa-siswi baru di Indonesia. Selain tugas yang diberikan cukup sulit, dimarahi oleh senior menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka. Sejumlah kampus atau sekolah sudah mulai meninggalkan sistem Ospek atau Mos lama dan menggantinya dengan yang baru.

Hal semacam ini diharapkan masyarakat Indonesia harus segera dihilangkan atau diganti dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada harus seperti saat ini mereka harus membeli bahan-bahan untuk perlengkapan ospek atau mos yang aneh-aneh, berpenampilan tak jelas atau sekedar lucu-lucuan dan setelah itu tak jarang adanya kekerasan yang dilakukan senior terhadap junioar yang terbukti turun temurun dilakukan.

Memang tidak semua kampus atau sekolah melakukan kegiatan seperti ini, ada juga yang sudah patut dicontoh namun nampaknya kegiatan ospek atau mos yang bermanfaat ini kalah jumlahnya dibandingkan dengan apa yang dibicarakan orang seperti sekarang ini.

ospek-mahasiswa mos-sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons