DIALOG BATU AKIK DENGAN PAKAR ARKEOLOGI HINGGA DI HADIRI ULAMA

Demam batu akik, di sejumlah daerah seolah membius warga. Untuk mencerahkan pola pikir para pencinta batu akik, di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, diadakan dialog tentang batu akik. Dialog itu menghadirkan pakar arkeologi dan ulama. Karena banyak dari para pecinta batu yang telah menganggap batu akik memiliki kekuatan magis dan akhirnya bisa menjadi syirik. Kumpulan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Kota Parepare, menggelar dialog tentang demam batu akik, dengan tema ‘Fenomena Demam Batu Mulia, dari Sisi Manfaat dan Mudarat’, di Kedai Andalusia, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare.

Rahman Saleh salah satu panitia kegiatan tersebut mengatakan bahwa Acara itu digelar untuk memberikan pencerahan kepada para penggemar dan kolektor batu akik, agar tidak menyalah artikan batu mereka.

Selain itu maraknya penjualan batu akik sering sekali di rusak dengan kecurangan penjual yang menjual batu akik palsu. Oleh karena itu dalam dialog tersebut, pakar arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Iwan Sumantri, menjelaskan ciri batu akik agar tidak tertipu oleh banyaknya penjual palsu.

“Ciri-ciri batu mulia atau yang sekarag diistilakan batu akik sangat sederhana, dilihat dari kaca pembesar ada mempunyai serat. Tidak mudah tergores oleh kuku. Dan kemudian jika dibakar tidak berkeriput,” kata Iwan.

Sedangkan untuk urusan dalam agama Islam tentu ada kaitannya yang benar-benar harus di pahami. KH. Dr. Halim pimpinan Pondok Pesantren DDI Kota Parepare,  menjelaskan, bahwa batu akik dapat dilihat dari sisi manfaat dan mudaratnya. Kata Halim, dari sisi mudarat, demam batu akik adalah jika kolektor atau penggemar batu akik mempunyai pikiran mistis, atau dalam Islam syirik. Karena hal itu jangan sampai terjadi karena syirik salah satu dosa besar yang tidak di ampuni Allah Swt.

Dan jika dilihat dari sisi manfaatnya, tentu selain indah jika dipakai, demam batu akik ini bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi para pengangguran. Bayangkan dulunya batu itu dijual hanya Rp 200.000 per kubik untuk bahan bangunan, sekarang ada yang dinilai Rp 1.500.000 itu hanya satu bongkahan batu,” ucap Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons