WHO menyerukan tindakan segera setelah anak-anak meninggal karena sirup obat batuk

LONDON (JurnalPagi) – Menyusul kematian seorang anak akibat sirup obat batuk tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tindakan “kolaboratif dan mendesak” untuk melindungi anak-anak dari kontaminasi narkoba.

Pada tahun 2022, lebih dari 300 anak, sebagian besar balita, akan meninggal di Gambia, Indonesia, dan Uzbekistan akibat gagal ginjal akut terkait kontaminasi obat, kata WHO dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Sirup obat batuk yang dijual bebas mengandung dietilen glikol dan etilen glikol dalam jumlah besar.

“Kedua kontaminan tersebut adalah bahan kimia beracun yang digunakan sebagai pelarut industri dan antibeku, yang bisa berakibat fatal meski dalam jumlah kecil dan tidak boleh ada dalam obat-obatan,” kata WHO.

Tujuh negara telah melaporkan menemukan sirup obat batuk yang terkontaminasi dalam empat bulan terakhir, kata PBB.

WHO menyerukan tindakan di 194 negara anggotanya untuk mencegah lebih banyak kematian.

“Karena ini bukan insiden yang terisolasi, WHO mengimbau berbagai pemangku kepentingan utama dalam rantai pasokan obat untuk mengambil tindakan segera dan terkoordinasi,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan peringatan pada Oktober dan awal bulan ini dan menyerukan beberapa obat ditarik dari pasar.

Obat-obatan tersebut diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech di India, yang masing-masing dikaitkan dengan kematian di Gambia dan Uzbekistan.

WHO juga mengeluarkan peringatan tahun lalu untuk sirup obat batuk buatan empat produsen Indonesia, PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical, PT Konimex dan PT AFI Pharma, yang dijual di dalam negeri.

Keempat perusahaan telah membantah bahwa produk mereka terkontaminasi atau menolak berkomentar saat penyelidikan sedang berlangsung.

Organisasi Kesehatan Dunia sekali lagi menyerukan penarikan produk-produk ini dari peredaran dan meminta negara-negara untuk memastikan bahwa obat-obatan yang dijual disetujui oleh otoritas yang berwenang.

Organisasi kesehatan juga meminta pemerintah dan badan pengawas untuk menggunakan sumber daya mereka untuk memantau produsen, meningkatkan pengawasan pasar, dan mengambil tindakan jika perlu.

WHO mewajibkan produsen obat untuk membeli bahan mentah hanya dari pemasok yang memenuhi syarat, menguji produk mereka dengan lebih teliti, dan mencatat proses pembuatannya.

WHO mengatakan pemasok dan distributor harus memeriksa tanda-tanda pemalsuan dan hanya mendistribusikan atau menjual obat yang telah disetujui untuk digunakan.

Sumber: Reuters

Perusahaan India hentikan produksi sirup obat batuk

BPOM: Parasetamol obat batuk di Gambia tidak terdaftar di Indonesia
obat herbal batuk bisa dibuat di rumah, resepnya ada di sini

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Azis Kurmala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *