jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 25, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nizar Patria mengapresiasi dukungan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dalam menerapkan tata kelola dan etika penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) global di Indonesia.

Kami mengapresiasi dukungan UNESCO dan seluruh pemangku kepentingan terhadap penerapan RAM di Indonesia. “Tujuan kami adalah menciptakan kerangka tata kelola AI yang komprehensif yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasokan AI global,” ujarnya saat peluncuran RAM AI Indonesia di Jakarta, Senin.

Nezar mengatakan peluncuran AI Readiness Assessment Methodology (RAM AI) merupakan langkah untuk menyediakan tata kelola AI yang komprehensif.

Menurutnya, banyak negara di dunia yang berupaya merumuskan kebijakan terkait teknologi kecerdasan buatan di tingkat multilateral, regional, dan nasional.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika: Hasil RAM AI Indonesia akan keluar pada pertengahan tahun 2024.

Wamenkominfo: Membuat Nalar Manusia Menjadi Ciri Pembeda Kecerdasan Buatan

Padahal, sejak tahun 2017, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melakukan kajian mengenai potensi risiko dan peluang penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Mulai dari pembentukan Satuan Tugas Komite Manajemen Kecerdasan Buatan Tingkat Tinggi hingga baru-baru ini Dewan Penasihat Kecerdasan Buatan Sekretaris Jenderal PBB.

“Mereka semua berperan penting dalam upaya kami memajukan tata kelola AI global,” katanya.

Salah satu deklarasi multilateral terbaru adalah Resolusi Majelis Umum PBB tentang Pemanfaatan Peluang Sistem Kecerdasan Buatan yang Aman, Terjamin, dan Terpercaya untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Wamenkominfo menilai perkembangan ini membuktikan bahwa masyarakat global memandang perlunya kerja sama dalam mengoptimalkan penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Hal ini juga tercermin dalam konsensus sebelumnya seperti Prinsip Penggunaan Kecerdasan Buatan yang Etis dalam sistem PBB dan Prinsip AI OECD UNESCO,” ujarnya.

Di tingkat regional, Eropa mengadopsi Peraturan AI UE. Faktanya, Dewan Eropa telah mengadopsi Konvensi Kerangka Kerja Eropa tentang Kecerdasan Buatan dan Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Supremasi Hukum.

Sementara itu, di kawasan Atlantik Utara, NATO mengadopsi strategi kecerdasan buatan sebagai bagian dari kebijakannya untuk merespons teknologi-teknologi yang muncul dan mengganggu.

Di kawasan ASEAN, Pedoman ASEAN tentang Tata Kelola dan Etika AI diadopsi tahun ini untuk mendorong diskusi mengenai tata kelola AI di kawasan.

“Diharapkan melalui ASEAN AI Guidelines, pengembangan tata kelola AI di negara-negara anggota ASEAN semakin terpacu,” kata Nizar.

Ia berharap peluncuran RAM AI dapat memberikan rekomendasi sebagai referensi bagi pengembangan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.

Saya berharap proses ini akan selesai sepenuhnya pada bulan September tahun ini dan temuan-temuan ini akan dapat memajukan pengembangan kecerdasan buatan yang tersebar luas. Ia menyimpulkan: “Bersama-sama kita akan menciptakan lingkungan kecerdasan buatan yang lebih produktif untuk mewujudkan Indonesia yang lebih digital dan sejahtera.”

Peluncuran RAM AI dihadiri oleh Geeta Sabharwal, Kepala Misi PBB di Indonesia, Direktur Kantor Regional Multisektoral UNESCO di Jakarta, dan Perwakilan UNESCO untuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor-Leste, Maki Katsuno Hayashikawa .

Selain itu, Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Itje Chodidjah, dan Ketua Umum Kerja Sama Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Buatan (KORIKA) Hammam Riza.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika dan Duta Besar Korea Selatan membahas World Artificial Intelligence Forum 2024.

Wamenkominfo: Sudah Saatnya Indonesia Kembangkan Kecerdasan Buatan dari Hulu hingga Hilir.

Pemerintah menjajaki penerapan AI dengan risiko minimal dengan Tiongkok
Itu

Koresponden: Fetor Rochman
Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024