Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika mendorong pola pikir adaptif dan inovatif dalam pengembangan AI

Jakarta (JurnalPagi) – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nizar Patria menyatakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sektor komunikasi semakin meningkat sehingga perlu dikembangkan pola pikir adaptif dan inovatif.

“Kegiatan komunikasi merupakan salah satu sektor yang berpotensi memanfaatkan kecerdasan buatan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Selasa. Oleh karena itu, saya mengajak Anda untuk memiliki pola pikir adaptif dan inovatif.”

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara pada seminar tentang kecerdasan buatan dan perubahan dunia komunikasi, di Kantor Pusat Lembaga Penyiaran Publik Republik Indonesia (TVRI), Jakarta Pusat.

Pemerintah menjajaki penerapan AI berisiko rendah dengan Tiongkok

Wamenkominfo tekankan pentingnya berpikir kritis dalam menghadapi trik kecerdasan buatan

Pada tahun 2024, diskusi mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan akan meningkat.

Mengutip data PRovoke Media tahun 2023, Nezar mengatakan setidaknya 61 persen pekerja komunikasi secara global telah menggunakan kecerdasan buatan generatif dalam melakukan pekerjaannya.

“Saya kira wajar jika diskusi mengenai kecerdasan buatan semakin berkembang. Di bidang komunikasi, tidak hanya pembahasannya, tetapi penggunaan kecerdasan buatan pun semakin berkembang,” ujarnya.

Wamenkominfo mencontohkan ChatGPT kini menjadi alat inspirasi. Selain itu, AI generatif juga digunakan untuk kegiatan pengumpulan informasi, pembuatan konten dan artikel media sosial, serta membantu pemantauan media.

Dengan beragamnya fitur yang dapat dimanfaatkan, pengembangan kecerdasan buatan dinilai dapat membuka peluang bagi industri komunikasi.

Bahkan, katanya, AI juga dapat berperan sebagai chatbot dan asisten virtual untuk memberikan respons real-time kepada konsumen, memberikan informasi yang dipersonalisasi yang disesuaikan dengan preferensi audiens, serta membantu mengidentifikasi potensi krisis dan langkah-langkah untuk mengatasinya. .

“Kita juga perlu mewaspadai potensi disinformasi di media dan risiko keamanan data pelanggan akibat personalisasi berita akibat pemrosesan data pelanggan secara ekstensif oleh kecerdasan buatan,” ujarnya.

Wamenkominfo: Penyusunan Perpres tentang Kecerdasan Buatan Perlu Payung Hukum yang Lebih Kuat.

Wamenkominfo Dorong Kolaborasi Ekosistem AI

Koresponden: Fetor Rochman
Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *