Vaksinasi dinilai penting untuk mencegah komplikasi COVID-19

Jakarta (JurnalPagi) – Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengingatkan masyarakat akan pentingnya memperbanyak vaksinasi untuk mencegah komplikasi kematian akibat penularan COVID-19.

Masalahnya virus ini masih berusaha menulari kita. Kalau kita vaksinasi, (lalu antibodinya) habis, makanya mutasinya berbeda, kata Penasihat Kelompok Kerja Imunisasi PAPDI Prof. , sekarang ada Omicron, itu semua untuk mencegah imunitas tubuh kita, dr dr Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI, FINASIM, dalam diskusi media di Jakarta, Rabu.

Samsoridjal menegaskan, vaksinasi efektif mencegah penularan dan keparahan penyakit akibat Covid-19, serta komplikasinya, termasuk kematian. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita Covid-19 antara lain: pneumonia, sindrom pernapasan akut berat (ARDS), sepsis, gagal ginjal, gangguan kardiovaskular, gangguan saraf, dan gangguan mental.

Beberapa pasien Covid-19 juga mengalami komplikasi lain seperti trombosis, kerusakan hati, dan gangguan pernapasan kronis, kata Samsuridjel.

Vaksin booster Covid-19 dianjurkan 28 hari sebelum pulang kampung

Ia juga mengatakan terdapat bukti bahwa Covid-19 dapat menyebabkan reaksi autoimun pada beberapa orang, seperti sindrom kelelahan kronis, artritis reaktif, dan gangguan neurologis autoimun.

Selain itu, ada kasus yang melaporkan tingkat antibodi yang menyerang jaringan tubuh setelah terinfeksi Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa virus tersebut dapat memicu respons autoimun pada beberapa orang.

Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami hubungan antara COVID-19 dan reaksi autoimun. “Jika Anda mengalami gejala autoimun setelah sembuh dari COVID-19, segera temui dokter untuk evaluasi dan penanganan yang tepat,” kata Samsuridjel.

Oleh karena itu, PAPDI mengeluarkan rekomendasi terkait hal tersebut melalui Satgas Imunisasi PAPDI Dewasa Amplifier (booster) kelanjutan vaksin covid-19. Dalam rekomendasi tersebut, ia mengatakan, sangat disarankan untuk menambah booster pada beberapa kelompok, yakni lansia yang memiliki penyakit penyerta setiap enam bulan sekali.

Kelompok kedua adalah remaja berusia di bawah 18 tahun dengan penyakit penyerta dan penderita obesitas yang menerima vaksin Covid-19 setiap 12 bulan. Begitu pula dengan tenaga kesehatan dan petugas yang sering melakukan kontak dengan pasien untuk mendapatkan tambahan booster vaksin Covid-19 setiap 12 bulan sekali.

Sementara itu, ibu hamil dapat menggunakan booster lanjutan satu kali selama kehamilan.

Hal lain yang direkomendasikan adalah penyiapan dan pemilihan vaksin Covid-19 untuk booster lanjutan berdasarkan keputusan Kementerian Kesehatan. “Peluang terbuka untuk layanan yang lebih luas di luar pendanaan negara,” kata Samsoridgell.

Peneliti UGM: Sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi COVID-19

WHO: Batas waktu perjanjian pandemi mungkin terlewat

dr RSCM Beberkan Alasan Meningkatnya Kasus COVID-19

Koresponden: Harilvita Dharma Shanti
Editor: Natisha Andarningtias
Hak Cipta © JurnalPagi 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *