Supervisor: Kita harus menyadari pentingnya menggunakan teknologi di PDP

JAKARTA (JurnalPagi) – Pengawas keamanan siber dari Indonesia Cyber ​​​​Security Society (ICSF) Satriyo Wibowo menilai perusahaan harus menyadari pentingnya penggunaan teknologi dalam perlindungan data pribadi (PDP) untuk mencegah kebocoran data.Pelanggaran data).

Pengamat: Perusahaan Harus Siapkan Penyesuaian UU PDP

“Kesadaran para pelaku usaha tentang pentingnya manajemen sangat diperlukan Kepercayaan digital Dan memastikan perlindungan data pribadi melalui langkah-langkah organisasi dan teknis, salah satunya adalah penggunaan teknologi di PDP, kata Satrio, yang juga sekretaris ICSF.Klinik MediaHampir, Jakarta, Selasa.

Dijelaskannya, teknologi yang ada di PDP secara umum dapat diklasifikasikan sebagai teknologi tracking, teknologi monitoring, manajemen aktivitas dan sebagainya Teknologi yang meningkatkan privasi atau teknologi peningkatan privasi (PET).

Menurut Satriyo, PET sendiri merupakan teknologi yang menambah kemampuan dalam perlindungan data pribadi. Teknologi peningkatan privasi juga diklasifikasikan ke dalam empat kategori Ubah data, Perlindungan datasistem dan arsitektur juga kesesuaian.

Data yang diubah Ini lebih ke arah membuat informasi tidak terlihat, sehingga hubungan antara data dan Isu Data dengan model anonimisasiSatria menjelaskan.

ITSEC Cyber ​​​​Security Summit Ajang penguatan ekosistem keamanan siber

“Sementara Perlindungan data Dengan cara ini, data tidak langsung terlihat. Jadi model pengkodean itu diimpor Perlindungan data“tambahnya lagi.

Secara umum, banyak teknologi yang termasuk dalam PET. Beberapa contohnya adalah: Pengidentifikasi komunikasi, kebingungan, Enkripsi homomorfik, Mencegah kehilangan data, Identifikasisampai Identitas digital (identitas digital).

Satrio mencatat, minimnya perlindungan data pribadi bersumber dari banyak hal, salah satunya adalah serangan siber. Dengan mencuri identitas digital, baik dengan penyerangan atau Rekayasa sosialitu juga mempengaruhi akses ilegal melalui pencurian data, transaksi ilegal, penyanderaan digital dan pemalsuan dokumen.

“Salah satu upaya mitigasi terhadap akses ilegal ini adalah penggunaan (sistem) identitas digital,” kata Satrio.

Meskipun sistem identitas digital bukan satu-satunya solusi utama dalam bidang menjaga keamanan siber, namun jika dikembangkan lebih lanjut, sistem identitas digital dapat membantu mengurangi kejahatan siber.

“Misalnya, validasi identitas saat mengakses sistem internal perusahaan yang menggunakan sertifikat elektronik bisa dilakukan meski mungkin lebih mahal,” ujarnya.

Dengan model seperti itu, penjahat dunia maya tidak memiliki akses ke informasi pribadi atau data perusahaan karena otentikasi tambahan.

“Sekarang selagi kamu memilikinya Kata sandi akun Bisa Geser Dari mana saja dia (penjahat) bisa masuk. Tapi kalau misalnya ada pihak ketiga yang memverifikasi orangnya, ya, dia tidak bisa masuk.”

BSSN Tawarkan Saran Situs Pemda yang Berisi Perjudian Online

BSSN Sebut Serangan Keamanan Siber Akan Menurun Tahun 2022 Dibanding Tahun 2021

Lima Tren Keamanan Siber yang Harus Diketahui UKM di Tahun 2023

Koresponden: Rizka Kharonisa
Diedit oleh: Aida Nurjahani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *