Seni menggunakan kemasan bekas “skin care”.

Kompas/SEKAR GANDHAWANGI

Sejumlah pengunjung Mal Senayan City melihat instalasi seni berbentuk pesawat berbahan botol bekas produk kecantikan di Jakarta, Kamis (22/2/2024). Instalasi tersebut dibuat oleh dua seniman Recycle Experience (Re_Exp), Ivan Driananda dan Atina Nouraini, bekerja sama dengan brand kecantikan Kiehl’s.

Kesadaran masyarakat terhadap pemilahan dan daur ulang sampah tumbuh seperti benih kecil yang tumbuh secara sporadis. Upaya untuk meningkatkan kesadaran ini masih terus dilakukan. Seni merupakan media untuk menarik minat masyarakat untuk peduli terhadap sampah.

Ada dua instalasi besar yang menyita perhatian sebagian pengunjung Mall Senayan City Jakarta, Kamis (22/2/2024). Instalasi pertama berupa pesawat terbang dengan dominan warna biru laut, karya dua seniman Recycle Experience (Re_Exp). Instalasi kedua mirip dengan diorama taman warna-warni karya seniman Dila Maharani. Karya mereka merupakan hasil kerjasama dengan brand dan produsen kecantikan perawatan kulit milik Kiehl

Tantangannya adalah membersihkan botol karena botolnya banyak. Menata botol agar sesuai dengan gambar juga menantang, namun menyenangkan. (Dila)

Re_Exp dan Diela diminta untuk membuat karya seni dari kemasan bekas Kiehl’s yang dikumpulkan konsumen. Keduanya langsung bekerja. Re_Exp memilih botol plastik berwarna gelap, sedangkan Dilla memilih botol warna-warni seperti merah, kuning, biru, dan oranye.

Re_Exp yang dipimpin oleh Ivan Driananda dan Atina Nouraini membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk membuat instalasi seni berbentuk pesawat terbang. Pertama-tama, mereka membuat rangka besi untuk menempelkan botol-botol bekas ke dalamnya. Rangka besi dan kawat yang mereka gunakan didapat dari bahan yang digunakan untuk membuat pagar.

Kompas/SEKAR GANDHAWANGI

Sejumlah pengunjung Mal Senayan City melihat instalasi seni berbentuk pesawat berbahan botol bekas produk kecantikan di Jakarta, Kamis (22/2/2024). Instalasi tersebut dibuat oleh dua seniman Recycle Experience (Re_Exp), Ivan Driananda dan Atina Nouraini, bekerja sama dengan brand kecantikan Kiehl’s.

Tanpa Produk Perawatan Kulit, Anak Merasa Lesu dan Tak Cantik

Besar kecilnya rangka besi disesuaikan dengan besar kecilnya botol yang digunakan. Menurut Athena, bagian ini cukup menantang karena harus menghitung dengan matang. “Jadi, siapa bilang seniman tidak perlu belajar matematika? Ha-ha-ha,” ucapnya.

Athena dan Ivan telah salah perhitungan dan harus membongkar dan memasang kembali instalasi tersebut beberapa kali. Meski pusing, namun proses mengerjakan tugas ini menyenangkan bagi keduanya. Selama proses ini, mereka menemukan teknik baru untuk membuat struktur dengan struktur yang kuat.

“Sampai saat ini, kami masih menggunakan teknik konstruksi sedikit demi sedikit. Saat mengerjakan ini, saya mengembangkan teknik baru. Botol kami Membuat lubang Dan diikat (dengan kawat pada rangka besi).” kata Athena.

Evan menambahkan, pihaknya menggunakan sekitar 1.600 botol bekas untuk pemasangannya. Sebelum dirakit di suatu fasilitas, botol-botol bekas dibersihkan terlebih dahulu untuk dibersihkan selama 9 hari.

Ilustrator Dila Maharani (kanan) memperlihatkan instalasi seninya yang bertajuk "Taman bunga" di Jakarta, Kamis (22/2/2024).  Dalam karya ini digunakan material bekas seperti papan kayu dan kemasan produk kecantikan bekas.  Karya ini bekerjasama dengan brand kecantikan kulit Kiehl’s.
Kompas/SEKAR GANDHAWANGI

Ilustrator Dila Maharani (kanan) memamerkan instalasi seninya bertajuk ‘Blossom Garden’ di Jakarta, Kamis (22/2/2024). Dalam karya ini digunakan material bekas seperti papan kayu dan kemasan produk kecantikan bekas. Karya ini bekerjasama dengan brand kecantikan kulit Kiehl’s.

Sedangkan Dila Maharani membuat instalasi seni bertajuk “Blossom Garden”. Penataannya ia buat dari papan kayu bekas yang dihaluskan lalu dilukis dengan cat akrilik menjadi bunga berukuran besar. Bunga tersebut kemudian mereka tempelkan pada botol bekas warna warni.

“Tantangannya adalah membersihkan botol karena botolnya banyak sekali. Menantang juga, tapi menyenangkan, menumpuk botol agar sesuai dengan gambar,” kata Dilla, yang mengerjakan proyek tersebut selama tiga minggu.

Ia menambahkan: “Ini menunjukkan bahwa barang sisa dapat diubah menjadi sesuatu dengan estetika berbeda.”

Kurangi limbah

Menurut Corporate Responsibility Manager L’Oreal Indonesia Mohamad Fikri, mengubah sampah menjadi karya seni merupakan salah satu cara untuk mengurangi sampah. Hal ini juga sebagai upaya untuk mempromosikan kelestarian lingkungan kepada masyarakat.

Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Setidaknya terdapat 3,2 juta ton sampah plastik yang tidak dikelola. Terdapat 1,29 juta ton sampah yang tidak dikelola dan berakhir di laut.

Ada dua hal dalam mengubah kebiasaan. Pertama, urgensi, kedua, untuk perubahan yang cepat, sayangnya kita harus bergerak dengan dorongan hati.

Berbagai pihak berupaya mengatasi permasalahan ini dengan mengurangi produksi kemasan plastik murni. Sejumlah produsen pun berupaya mengumpulkan kemasan produk yang mereka distribusikan di tempat pengumpulan sampah. Kemasan bekas kemudian dibersihkan dan didaur ulang menjadi kemasan baru.

Kami telah mendaur ulang sejak 2019. Mulai tahun 2023, kami akan mengumpulkan lebih dari 25.000 botol. Fekri berkata: Tahun ini Anda ingin mengumpulkan 60.000 botol tidak hanya dari merek kami, tetapi juga dari merek lain.

Tumpukan kemasan produk kecantikan bekas dikumpulkan dalam kotak buatan brand kecantikan Kiehl's di Jakarta, Kamis (22/2/2024).  Kemasan bekas ini akan didaur ulang untuk mengatasi masalah penumpukan sampah.
Kompas/SEKAR GANDHAWANGI

Tumpukan kemasan produk kecantikan bekas dikumpulkan dalam kotak buatan brand kecantikan Kiehl’s di Jakarta, Kamis (22/2/2024). Kemasan bekas ini akan didaur ulang untuk mengatasi masalah penumpukan sampah.

Mengolah Sampah Kampanye Menjadi “Uang”

Perusahaan pengolah limbah Rekosistem juga telah mendirikan beberapa tempat pengumpulan limbah mineral di ruang publik. Mereka juga mengumpulkan sampah organik dan anorganik yang didaftarkan oleh pengguna aplikasi mereka. Masyarakat yang memungut sampah akan mendapatkan poin yang dapat ditukarkan dengan saldo dompet digital atau voucher belanja.

Menurut Angga Aditya Fritz Ardana, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Kemitraan Rekosistem, sebagian masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan pemilahan sampah. Di sisi lain, mengubah kebiasaan masyarakat bukanlah hal yang mudah.

“Saya kira ada dua hal untuk mengubah kebiasaan. Pertama, urgensi. Kedua, untuk berubah dengan cepat, sayangnya kita harus bergerak dengan insentif. Apakah ini ideal?” mereka konsumsi.

Dia menambahkan: “Tetapi karena kami menganggap insentif itu perlu, kami menggunakan teknologi untuk itu (memberikan insentif).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *