jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 25, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Pemuka agama Budha Bante Damavudu menyatakan, Sang Buddha mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga kedamaian dan kerukunan umat beragama melalui Saranya Dhamma Sutta yang memuat enam nilai kehidupan.

“Ini benar-benar dimaksudkan untuk mempererat hubungan interaktif agama ini. Jadi hal yang sama juga terjadi dalam agama Buddha itu sendiri. “Kami mengajarkan kepada masyarakat untuk selalu berbuat baik kepada sesama,” kata Bante Damavudu di Jakarta, Kamis.

Banthe mengatakan Sang Buddha selalu mengajarkan para pengikutnya untuk saling memberikan cinta tanpa syarat untuk menciptakan keharmonisan dan perdamaian.

Perayaan Waisak 2024, 40 Bhikkhu Thudong Dilepaskan di TMII

Kemenkumham Berikan Amnesti Khusus kepada 1.168 Narapidana Vysk 2024.

Dalam ajaran Saranya Dhamma Sutta, hal pertama yang ditekankan adalah perluasan cinta kasih melalui tindakan (matakaya kamma).

Dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak 2568 BE yang bertemakan “Hidup bahagia sebagai makhluk dan manusia, mari kita tingkatkan kesadaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, hindari keserakahan duniawi, kebodohan, kemarahan dan kebencian”, umat Buddha mengadakan bakti sosial. Sebuah acara yang digelar di sekitar Candi Borobudur, Maglang, Jawa Tengah, mengajak masyarakat untuk berbagi kepada kelompok yang membutuhkan.

“Acara Waisak tahun ini merupakan pengabdian kepada masyarakat sekitar 8.000 orang dan bukan kita yang memilih, tapi seluruh masyarakat kawasan Borobudur beragama Buddha atau tidak, tentunya dengan cara ini kita akan membantu,” kata Bante Damavudo.

Kedua, penyebaran cinta kasih melalui kata-kata (Mettavaci Kamma). Dimana setiap tuturan yang diucapkan jamaah tidak boleh mencela atau menyakiti perasaan orang lain baik di depan maupun di belakang orang yang bersangkutan.

Nilai ketiga adalah pancaran cinta kasih dari pikiran (Mettamano Kamma). Kemudian yang keempat selalu berpasangan dengan orang lain (Sadaranabghi).

Misalnya, baru-baru ini di bulan puasa terjadi “perang takjeel” antara umat Islam dan non-Muslim, namun di sisi lain kedua belah pihak memanfaatkan momen tersebut sebagai hal yang positif untuk menggalang kerukunan bahkan dijadikan sebagai ajang silaturahmi. membagikan. .

Bante melanjutkan, nilai yang kelima adalah kehidupan moral (Silaamannata), yang artinya setiap orang tidak boleh saling mengkritik dan menahan diri dari perbuatan buruk seperti ingin membuat orang lain menderita atau membunuh atau melanggengkan korupsi demi kepentingan pribadi. kebahagiaan.

Terakhir, Banthe menjelaskan bahwa Sang Buddha mengajarkan bahwa kehidupan harus didasarkan pada pandangan yang sama tentang kebenaran (Ditthisamannata).

“Jadi yang perlu kita sadari sebagai manusia adalah dalam hidup ini, kita sebagai manusia punya keserakahan, kita punya kebencian, kita juga sadar bahwa kita punya kebodohan. “Ketiga hal inilah yang seringkali membuat kita menderita atau menderita,” kata Bante.

Biksu berharap Waisak 2024 membawa kedamaian bagi seluruh umat beragama

Walikota: Semarang punya sejarah panjang dalam menyebarkan agama Buddha

Menparekraf: Penginapan di sekitar Borobudur sebagian besar sudah dipesan.

Koresponden: Harilvita Dharma Shanti
Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024