jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 20, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Kemajuan teknologi membawa pembaruan pada bisnis perbankan di Indonesia, yaitu dengan adanya bank yang menawarkan layanan berbasis digital kepada nasabah atau disebut bank digital.

Perkembangan ekosistem perbankan digital didukung oleh kondisi perekonomian yang membaik pasca pandemi COVID-19.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 akan tetap berada pada tahap stabil di tengah ketidakpastian kondisi global dan situasi domestik pada tahun pemilu.

Hasil positif tersebut ditunjukkan oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2024 tumbuh sebesar 5,11 persen year-on-year. tahun ke tahun (Sehat).

Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di atas 5 persen pada tahun 2024 dengan perkiraan berkisar antara 4,7 hingga 5,5 persen.

Faktor pendukungnya adalah peningkatan investasi khususnya di sektor pembangunan, seiring dengan dilanjutkannya sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk Ibu Kota Kepulauan (IKN).

SeaBank berikan bantuan literasi keuangan dan CSR kepada penyandang disabilitas

Selain investasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan ditopang oleh permintaan domestik, khususnya pertumbuhan konsumsi yang terus berlanjut, termasuk dampak positif pemilihan umum (Pemilo) dan meningkatnya perkembangan aktivitas perekonomian pasca pandemi Covid-19.

Pertumbuhan positif perekonomian Indonesia juga dibarengi dengan stabilnya kinerja perbankan yang ditunjukkan dengan meningkatnya rasio tersebut Pengembalian aset (ROA) dan Margin keuntungan bersih (NIM) pada Maret 2024.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan ROA dan NIM masing-masing sebesar 2,62% dan 4,59% pada Maret 2024, naik masing-masing 2,52% dan 4,49% dibandingkan Februari 2023.

Di sektor perbankan digital, sejumlah bank telah melaporkan hasil kinerjanya pada kuartal I-2024 yang sebagian besar berhasil mencatatkan keuntungan. Salah satunya SeaBank yang meraih laba Rp 52 miliar pada kuartal I 2024 atau tumbuh 238% secara tahunan.

Selain laba, kinerja positif SeaBank juga ditunjukkan dengan penyaluran kredit sebesar Rp 18,2 triliun. Pinjaman tidak lancar (NPL) terkendali di level 2,02% dan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 24,5 triliun.

Review Peluang Perbankan Digital yang Aman dan Menguntungkan

Daya saing

Sejumlah bank, termasuk bank digital, berhasil mencatatkan keuntungan dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat, terutama saat pemilu, jelas Abdul Manap Polongan, pengawas perbankan dan ekonom dari Institute for Economic Development and Finance (INDEF). Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

“Dapat diuntungkan karena ada kesibukan pemilihan presiden, lebaran, dan puasa, sehingga konsumsi masyarakat meningkat pada kuartal ini,” kata Abdullah.

Menurutnya, bank digital memiliki keunggulan di bidang layanan digital. Namun, ia mencatat bahwa bank-bank konvensional yang lebih besar kini juga mulai memasuki sektor digital.

Oleh karena itu, bank digital didorong untuk meningkatkan daya saingnya, salah satunya melalui layanan atau promosi yang ditawarkan kepada nasabahnya.

Sementara itu, Dodi Arifianto, dosen pembimbing ekonomi perbankan dan dosen Universitas Bina Nusantara, menilai perolehan keuntungan bank digital pada kuartal I 2024 menjadi sinyal bahwa bank digital masih mampu bersaing dengan bank konvensional yang memiliki posisi kuat di bisnis perbankan. sektor ini harus bertahan. .

“Keuntungan ini menjadi sinyal bahwa mereka bisa bertahan. Mereka (bank digital) bisa Bertahan hingga saat ini (sejauh ini),” kata Dadi.

Salah satu dari beberapa bank digital yang bersaing dengan bank tradisional adalah SeaBank yang berhasil bertahan dengan laba Rp 52 miliar pada kuartal I 2024.

Sejarah Hari Oeang, Dari Pertukaran Komoditas Hingga Digitalisasi Seperti SeaBank

 

Gambar Bank Digital Seabank. (JurnalPagi/HO-Seabank)

Senada dengan perkataan Abdullah, Dadi mengatakan, faktor kunci dalam meningkatkan daya saing bank digital adalah memperkuat preposisi, yakni memberikan penawaran yang berbeda dan lebih menarik dibandingkan kompetitor sehingga mampu menarik lebih banyak nasabah baru.

“Mereka perlu membuat preposisi, sesuatu yang ditawarkan kepada nasabah yang bisa mereka lindungi, lindungi dan tidak diambil alih oleh bank lain dan itu yang perlu mereka pikirkan,” kata Dadi.

Selain keuntungan, salah satu faktor yang menunjukkan kinerja positif perbankan digital adalah penerimaan dana pihak ketiga (DPK), yakni simpanan pihak ketiga nonbank yang terdiri dari giro, tabungan, dan deposito.

Dalam laporan keuangan, beberapa bank digital juga menunjukkan peningkatan DPK. Salah satunya SeaBank yang berhasil menghimpun simpanan sebesar Rp 24,5 triliun hingga kuartal I 2024.

Tren positif bisnis perbankan digital ini menjadi pertanda bahwa transaksi di bank digital masih aman dan menguntungkan.

Supervisor Perbankan INDEF Abdul Manap Pollongan menambahkan, faktor pendukung yang membantu perolehan simpanan bank digital adalah pemberian manfaat layanan atau promosi menarik yang membuat nasabah menyimpan uangnya di bank.

Sementara itu, Ekonom dan Peneliti dari Center for Economic and Legal Studies (Celios) Nailul Huda, faktor pendukung menarik nasabah baru ke bank digital adalah tingginya penetrasi internet dan penggunaan perangkat seluler.

Menurutnya, bank digital berhasil menarik banyak nasabah baru, terutama generasi muda dan mereka yang sebelumnya kurang bisa mengakses perbankan konvensional.

Aliran DPK yang relatif besar ini didorong oleh program kemitraan bank digital dengan platform e-commerce, kata Naylul.perdagangan elektronik) seperti SeaBank dan Shopee.

“Shopee menawarkan SeaBank dengan bunga yang sangat tinggi. Banyak orang yang tergiur menabung di SeaBank,” kata Nailul.

CBank: Bank Digital Dorong Ekonomi Inklusif Indonesia

layanan pelanggan

Salah satu cara untuk menjamin keamanan transaksi di bank digital adalah peran pengawasan yang dilakukan OJK.

OJK meminta bank digital memperkuat perlindungan nasabah, mengingat banyak di antaranya yang mengenakan suku bunga tinggi di atas yang dikenakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) guna menarik nasabah dan menghimpun dana pihak ketiga (DPK).

OJK mendorong bank digital untuk menerapkan perlindungan nasabah yang meliputi transparansi, edukasi konsumen, pengawasan dan pengaturan, serta perlindungan data.

Kehadiran bank digital di sektor bisnis perbankan meningkatkan penyebaran ekosistem perekonomian di tanah air.

Dengan pesatnya perkembangan digitalisasi dan gaya hidup masyarakat yang semakin terhubung dengan keberadaan teknologi, nampaknya menjadi insentif bagi para pelaku bisnis perbankan untuk beradaptasi dengan situasi saat ini, yakni melakukan digitalisasi layanannya.

Gambar Bank Digital Seabank. (JurnalPagi/HO-Seabank)

Di sisi lain, pemerintah terus mendorong sektor jasa keuangan untuk melakukan transformasi digital yang diyakini dapat memberikan manfaat baik bagi nasabah maupun bank.

Salah satunya melalui OJK yang dengan menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Bank Umum dan POJK Nomor 13 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Produk Bank Umum, Digitalisasi Sektor Jasa Keuangan, termasuk mengakomodasi perbankan.

Ekosistem antara bank digital dan layanan digital lainnya seperti perdagangan elektronik Salah satu kunci visi bisnis masa depan adalah perbankan digital.

Dengan semakin meningkatnya penggunaan internet dan perangkat seluler di kalangan masyarakat saat ini, bukan tidak mungkin seluruh bisnis perbankan akan serba digital di masa depan.

SeaBank Bagikan Tips Pengelolaan Keuangan yang Sehat di Tahun 2024, Yuk Dicoba!

Koresponden: Farhan Arda Nograha
Redaktur : Siti Zulikha
Hak Cipta © JurnalPagi 2024