jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 14, 2024

Jakarta (JurnalPagi) –

Penelitian yang dilakukan Kelompok Masyarakat Peduli Kesehatan Mental menemukan bahwa pemilihan umum (Pemilu) tahun 2024 berpengaruh terhadap peningkatan risiko gangguan kesehatan mental yaitu kecemasan dan depresi pada masyarakat Indonesia.

“Ada hubungan yang sangat erat dan signifikan antara proses pemilu 2024 dengan kecemasan dan depresi masyarakat,” kata Dr. Kakos, peneliti kelompok California. dokter. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH pada diskusi media di Jakarta Selatan, Rabu.

Ray menjelaskan penelitian ini melibatkan 1.077 responden dari 29 provinsi dan luar negeri dengan menggunakan metode survei kuesioner. 71% peserta berusia di bawah 40 tahun.

Dari hasil penelitian tersebut, Ray menjelaskan prevalensi tingkat kecemasan sedang hingga berat pada masyarakat Indonesia pasca pemilu 2024 adalah sebesar 16%. Sedangkan prevalensi depresi sedang hingga berat sebesar 17,1%.

“Ini adalah kombinasi dari[kecemasan dan depresi]sedang dan berat, kami mengecualikan mereka yang memiliki gejala ringan karena jika kami memasukkan mereka, bisa jadi lebih parah,” kata Ray.

Ray menjelaskan, dibandingkan data prevalensi kecemasan dan depresi Survei Kesehatan Dasar 2018 dan Dinas Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pada tahun 2022, prevalensi kecemasan umum menjelang pemilu 2024 sebesar 9,8 persen, sedangkan depresi sebesar 6 persen. .

Penyebab kecemasan dan depresi pasca Pemilu 2024 adalah konflik internal dalam menentukan pilihan, konflik eksternal terkait perbedaan pilihan politik, dan tekanan dalam memilih calon tertentu.

“Yang mendorong siapa? Ternyata mayoritas keluarga, tapi ada juga rekan dan tim tempur, tapi itu kecil,” kata Ray.

Menurut Rey, pemilu 2024 belum tentu menimbulkan kegelisahan dan depresi di masyarakat Indonesia. Namun, acara Partai Demokrat turut menyumbang peningkatan risiko gangguan kesehatan mental.

Lebih rinci, Ray menjelaskan, 3 dari 10 responden yang merasa berkonflik dengan dirinya sendiri, berkonflik dengan pihak lain, dan tertekan untuk memilih calon tertentu pada proses pemilu 2024 secara signifikan melaporkan mengalami kecemasan sedang hingga berat.

Hal ini meningkatkan risiko kecemasan sedang hingga berat sebesar 2,6 kali lipat hingga 3 kali lipat.

Sedangkan untuk depresi, 31 persen responden konflik diri mengalami depresi sedang hingga berat dengan tingkat risiko 2,5 kali lebih tinggi. Sekitar 25 persen responden yang berselisih dengan partai lain terkait proses pemilu mengalami depresi tingkat sedang hingga berat, sehingga risikonya meningkat hampir dua kali lipat.

Kemudian, 40 persen responden yang dipaksa memilih kandidat tertentu mengalami depresi sedang hingga berat, dengan risiko 3,3 kali lebih besar terkena depresi.

Koresponden: Farhan Arda Nograha
Redaktur : Siti Zulikha
Hak Cipta © JurnalPagi 2024