Peneliti menyebut bulan Ramadhan-Idul Fitri berpengaruh terhadap proses transaksi digital

Jakarta (JurnalPagi) – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Tiola Alin mengatakan peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri akan mempengaruhi tren pertumbuhan transaksi ekonomi digital.

Menurutnya, pertumbuhan tren transaksi digital terjadi karena banyak pembeli pasar konvensional yang beralih ke platform ini. perdagangan elektronik Karena proses transaksi lebih efektif dan memudahkan konsumen.

“Meski harga secara umum meningkat, daya beli konsumen juga meningkat karena penambahan anggaran seperti tunjangan hari raya dan peningkatan pendapatan di sektor strategis seperti makanan dan minuman,” katanya dalam keterangannya di Jakarta. Rabu.

BI: Transaksi perbankan digital naik 9,88% menjadi $4944,1 triliun.

Dia juga meyakinkan bahwa tren penggunaan layanan digital yang semakin meningkat akan mempercepat integrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ke dalam platform digital sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta berkontribusi terhadap perekonomian.

“Pemerintah dapat melanjutkan dan mendorong berbagai program pelatihan dan pengembangan usaha kecil dan menengah dalam rangka transformasi ekonomi digital yang lebih luas,” ujar S. Rajaratnam, lulusan School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.

Tiola berharap tren peningkatan kegiatan ekonomi digital ini akan diikuti oleh pemerataan akses infrastruktur internet sehingga warga di luar kota besar juga dapat merasakan kemudahan layanan digital.

Jalin Siapkan Pos RAFI Menanti Peningkatan Transaksi Lebaran 2023

Menurutnya, layanan digital tidak hanya bermanfaat dalam mendukung transaksi jual beli, tetapi juga berdampak besar pada berbagai bagian kehidupan masyarakat, seperti pendidikan jarak jauh dan pengobatan jarak jauh.

“Perkembangan kegiatan ekonomi digital yang sangat pesat ini harus dibarengi dengan upaya nyata untuk mendukung keamanan dan pertumbuhan di sektor ini, termasuk memperkecil disparitas akses teknologi informasi dan komunikasi (kesenjangan digital) dan kapabilitas digital antar wilayah dan antar konsumen. didampingi oleh orang-orang di Indonesia.” Dia berkata.

Transaksi KPR Swasta di Madan Berfluktuasi di Awal Bulan Suci Ramadhan 1444 Hijriyah.

Hingga saat ini, ketimpangan akses teknologi informasi dan komunikasi serta kemampuan digital menjadi kendala dalam meningkatkan pengaruh ekonomi digital dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil dan jauh dari pusat ekonomi.

Sebelumnya, Kementerian Koordinasi Perekonomian mengumumkan bahwa 40 persen atau sekitar US$77 miliar (Rp1.146 triliun) dari seluruh transaksi ekonomi digital ASEAN berasal dari Indonesia. Pada tahun 2025, nilai ini diproyeksikan menjadi dua kali lipat menjadi US$130 miliar (Rs. 1.934 triliun) dan akan terus meningkat hingga mencapai sekitar $360 miliar (Rs. 5.357 triliun) pada tahun 2030.

Waspada penipuan internet saat lebaran dan hindari

Pemberita: Satyagraha
Editor: Siti Zulikha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *