jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 25, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dokter. dokter. Nila Djuwita F. A Moeloek, Sp.M(K) mengatakan pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bergantung pada mobilisasi dan pemberdayaan masyarakat melalui 3M Plus selain pengendalian vektor.

3M Plus berarti mengosongkan tangki air, menutup tangki air, mendaur ulang berbagai barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Nyamuk Aedes Aegypti serta pemanfaatan abates dan plus plus antara lain menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, dan menggunakan obat nyamuk.

“Dengan merusak habitat tempat nyamuk bertelur, hal ini masih diyakini efektif untuk mengurangi populasi nyamuk.

Kementerian Kesehatan menemukan 35.694 kasus DBD pada awal tahun 2023

Menurutnya, upaya pemberdayaan masyarakat secara terus-menerus, berkesinambungan dan berkesinambungan seringkali tidak mudah dan menjadi tantangan bagi upaya pencegahan penyakit demam berdarah khususnya di Indonesia.

Di sisi lain, upaya pencegahan demam berdarah juga dilakukan melalui vaksinasi yang diperkenalkan dan digunakan secara bertahap oleh sebagian masyarakat di Indonesia.

Merujuk pada Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), vaksin demam berdarah merupakan vaksin hidup yang digunakan antara usia 6 hingga 45 tahun dengan selang waktu tiga bulan antara vaksinasi pertama dan kedua. Setelah itu, vaksinasi ulang tidak perlu dilakukan empat tahun kemudian, karena antibodinya masih tinggi.

Menurut Nila, demam berdarah masih menjadi masalah endemik di Indonesia dan seringkali berakibat fatal. Merujuk statistik Kementerian Kesehatan awal tahun 2023 hingga minggu ke-47 Januari hingga November, ia mengatakan, 83 ribu 302 kasus demam berdarah telah dilaporkan di 465 wilayah di 34 provinsi tanah air dengan 574 kematian.

Kemudian berbicara tentang penderita demam berdarah, mengacu pada data tahun 2021, ditemukan 36% dari 90.865 kasus demam berdarah berada pada kelompok produktif dengan rentang usia 15 hingga 44 tahun.

Sedangkan demam berdarah menjadi penyebab kematian keenam pada anak.

Nila mengatakan, dari empat kasus kematian akibat demam berdarah, 3 kasus lainnya terjadi pada anak usia 6 hingga 14 tahun.

Menkes mengapresiasi kerja sama Takeda dalam mencegah demam berdarah

Pemerintah memperkirakan risiko penularan DBD akan meningkat

Dokter RSCM Anjurkan Masyarakat Waspada Demam Berdarah Saat Musim Hujan

Koresponden: Lia Vanadriani Santosa

Hak Cipta © JurnalPagi 2024