jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 25, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pemerintah mempunyai kewajiban memenuhi hak seluruh warga negaranya untuk menghirup udara bersih dan berkualitas.

Pemerintah harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengendalikan pencemaran udara, kata Profesor Tjandra saat dihubungi JurnalPagi di Jakarta.

Menyikapi memburuknya kualitas udara Jakarta saat ini, Profesor Tjandra mengatakan pemerintah bisa menerapkan strategi paling sederhana, seperti memberikan informasi tingkat polusi udara secara akurat dan berkala kepada masyarakat dengan lebih luas dan mudah. Memahami.

Dokter Kesehatan Minta Warga Tak Lalai Jaga Diri Saat Cuaca Buruk

Sedangkan jika ada warga negara yang mempunyai gangguan kesehatan atau termasuk kelompok berisiko yang terkena masalah akibat pencemaran udara, maka pemerintah berkewajiban menjamin seluruh warga negara mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan yang diperlukannya tanpa menimbulkan beban ekonomi Ini dikenal sebagai sebuah konsep Cakupan kesehatan universal (UHC).

Pria yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) ini menilai pemerintah harus mewaspadai dampak buruknya kualitas udara yang mengandung partikel berbahaya seperti PM 10 dan PM 2.5. . Termasuk kandungan minimal CO, SO2 dan ozon.

Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat, Kelompok Sensitif Harus Pakai Masker

Ia juga menjelaskan, dalam jangka pendek, kualitas udara yang rendah mengganggu sistem pernapasan. Hal ini menimbulkan keluhan batuk, sesak nafas, serangan asma dan eksaserbasi penyakit paru kronik (PPOK).

Ada juga kemungkinan orang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) berupa bronkitis, dll. Padahal, dalam jangka panjang, terdapat kemungkinan kerusakan saluran napas dan alveoli yang dapat berujung pada penyakit paru kronis dan eksaserbasinya.

Hal ini (kualitas udara buruk) perlu diubah karena kita warga Jakarta bisa mulai mengonsumsi makanan yang tidak terkontaminasi, tapi kita tidak bisa selalu memilih udara yang kita hirup. Profesor Tjandra mengatakan: “Jika ada polusi udara, kita harus atau harus menghirup udara yang terkontaminasi polutan dan ini berbahaya bagi kesehatan kita.”

Kualitas Udara Terburuk di Dunia, Masyarakat Diimbau Pakai Masker

Sementara itu, ia mengimbau masyarakat sebisa mungkin membatasi aktivitas di luar ruangan jika tingkat polusi udara masuk kategori buruk. Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, dan tentunya tidak merokok.

Jika Anda memiliki penyakit kronis, baik itu penyakit paru-paru atau penyakit lainnya, pastikan Anda mengikuti anjuran dokter, termasuk mengonsumsi obat-obatan rutin yang diperlukan. Ia mengatakan: Pekerjaan ini juga direkomendasikan untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua.

Hari ini, laman IQAir yang terakhir diupdate pada pukul 11.00 WIB memuat informasi bahwa kualitas udara Jakarta tidak sehat bagi kelompok sensitif.

IQAir mencatat kualitas udara Jakarta pada titik 140 dengan konsentrasi polutan PM 2.5 sebesar 51,3 µg/m3, atau 10,3 kali lipat nilai pedoman kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kualitas udara DKI Jakarta terburuk ketiga di dunia

Kualitas udara Jakarta pada Jumat pagi merupakan kualitas udara terburuk di dunia

Koresponden: Harilvita Dharma Shanti
Redaktur : Siti Zulikha
Hak Cipta © JurnalPagi 2024