jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juni 16, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Ilmuwan telah mengembangkan alat yang dapat mendeteksi dan menganalisis suara kentut, urin, dan feses manusia.

Alat yang dipublikasikan oleh Medical Daily beberapa waktu lalu ini disebut Artificial Acoustic Human Reproduction Testing Device (SHART), yaitu alat mekanis yang dilengkapi dengan pompa, nosel, dan tabung.

Alat ini dirancang untuk menciptakan kembali suara tubuh manusia. Pembuat mesin SHART mempresentasikan karya mereka di konferensi Fluid Dynamics tahunan American Physical Society. Hasilnya belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review.

Para ilmuwan sedang melatih kecerdasan buatan untuk mengenali dan menyelidiki suara scatologis, yang suatu hari nanti dapat membantu mendiagnosis penyakit mematikan seperti kolera dan menghentikan potensi wabah lebih awal.

Maya Gatlin, seorang insinyur kedirgantaraan di Georgia Tech Research Institute (GTRI), mengatakan deteksi kasus yang lebih cepat akan membantu mengendalikan wabah.

Peneliti ingin mengambil model kecerdasan buatan beserta sensor yang relatif murah dan menggunakannya di daerah rawan wabah penyakit.

Suara adalah metode non-invasif untuk analisis kondisi usus jarak jauh. Meskipun pelaporan diri tidak terlalu dapat diandalkan, para peneliti telah menemukan metode non-invasif yang memungkinkan orang mengetahui apakah mereka memeriksa diri mereka sendiri atau tidak.

Seperti air seni yang tidak mengalir secepat seharusnya, kentut tidak terdengar seperti seharusnya, jadi sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter.

Berdasarkan data tersebut, AI dapat mengidentifikasi peristiwa pembuangan yang benar dengan akurasi 98%.

Para ilmuwan bersikeras bahwa alat mereka akan mudah di kantong semua orang, terutama karena proyek tersebut berfokus pada daerah perkotaan dengan sistem sanitasi yang lemah.

“Keterjangkauan sangat penting bagi kami,” kata mereka.

Kenapa Kentut Bisa Bersuara dan Berbau? Apakah aman ditangkap?

Benarkah “Kentut Unta Perparah Pemanasan Global”?

Memotret Pilkada via musang

Penerjemah: Lia Vanadriani Santosa
Editor: Alviansia Pesaribo