jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 24, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Mahkamah Konstitusi (MK) RI menerbitkan empat buku yang ditulis oleh Hakim Konstitusi Arsul Sani, mantan Wakil Konstitusi Manahan Sitompul, dan mantan Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams.

“Saya yakin dengan diperkenalkannya buku ini pada pagi hari ini, kita semua akan mendapatkan wawasan-wawasan baru yang lebih berharga dari wawasan kita saat ini,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo pada acara pembukaan buku UUD 1945. Republik Indonesia. Gedung Pengadilan, Jakarta, Kamis.

Empat judul buku yang diluncurkan adalah: Ora Et Labora: Perjuangan dan Perjuangan Anak Tarotong Menjadi Hakim oleh perwakilan Manahan Sitompul dan 70 tahun Dr. Wahiduddin Adams, SH, MA Tentang Angin Puyuh Kehidupan dan Supremasi Konstitusi Oleh Wahiduddin Adams

Kemudian, Keamanan Nasional dan Perlindungan Hak Asasi Manusia: Dialektika Penanggulangan Terorisme di Indonesia oleh Arsal Thani juga Menciptakan kebiasaan yang benar: kumpulan tulisan dan testimoni teman Oleh Wahiduddin Adams

Ketua Mahkamah Konstitusi mengatakan, Menulis buku di Mahkamah Konstitusi sudah menjadi tradisi, khususnya di kalangan hakim konstitusi. Di sisi lain, ia berpendapat bahwa membaca buku meningkatkan khasanah pemikiran, yaitu dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan.

Untuk itu, Suhartoyo berharap judul-judul yang dirilis hari ini bukanlah buku terakhir yang ditulis Vahiduddin Adams dan MP Manahan Sitompul.

“Saya yakin kita masih berharap Pak Vahid tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai dosen. Ia menambahkan: “Demikian pula Pak Monahan, menurut saya masih banyak ide dan pemikiran dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dituangkan dalam buku.

Sementara Suhartoyo untuk Arsul Thani menilai buku yang dirilis ini merupakan awal yang baik. Sementara Arsal Thani diangkat menjadi hakim konstitusi menggantikan Vahiduddin Adams.

Begitu juga Pak Arcel, awal yang bagus sekali, ngomong-ngomong hobinya menulis, kata Suhartoyo.

Selain itu, Suhartoyo menyoroti salah satu buku karya Vahiduddin Adams dalam pidatonya. Menciptakan kebiasaan yang benar: kumpulan tulisan dan testimoni teman.

Ia mengatakan, hikmah yang bisa dipetik dari buku ini adalah apa yang benar harus dilakukan, bukan membenarkan apa yang sudah biasa dilakukan.

Karena penegasan suatu hal yang umum belum terbukti kebenarannya. Kata Ketua MK: “Tapi kalau sudah terbiasa dengan sesuatu yang benar, maka pasti terbukti benar.”

MK menolak tes persyaratan usia resmi calon presiden dan wakil presiden, Denny Indrayana cs
Suhartoyo Sebut MK Punya Formula PHPU Adil Tanpa Anwar Osman
Mahkamah Konstitusi Jadikan Agenda Pembukaan Sidang Jadi Tradisi Baru
Waktu Penyelesaian Perkara di Mahkamah Konstitusi Tahun 2023 Lebih Cepat Dibandingkan Tahun 2022

Koresponden: Fateh Putra Molya
Editor: Guido Merong
Hak Cipta © JurnalPagi 2024