Mengunjungi Posiando dua kali setahun wajib dilakukan untuk mendiagnosis anak pendek

Jakarta (JurnalPagi) –

Plt. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Wakil Presiden Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Marianos Mao Koro mengingatkan para orang tua untuk rutin membawa bayinya ke Posiando minimal dua kali dalam setahun untuk mendeteksi risiko perawakan pendek pada anak.

“Posiando kami jadikan lokasi pelayanan yang paling dekat dengan masyarakat, sehingga kami mengerahkan seluruh balita di Posiando untuk datang dan ditimbang dua kali setahun pada bulan Februari dan Agustus,” kata Marianos dalam diskusi pentingnya ASI di Jakarta. Rabu.

Marianos mengatakan, anak usia 0 hingga 2 tahun mengalami pertumbuhan otak yang sangat pesat hingga mencapai 80 persen, sedangkan pada usia 2 tahun ke atas penurunannya hanya sebesar 20 persen. Jika perawakan pendek pada bayi tidak ditangani pada usia 2 tahun, pertumbuhan otaknya akan melambat dan memengaruhi perkembangan kognitifnya.

Penimbangan anak di Posiando atau Puskesmas juga harus berstandar baik agar akurat. Standar pertama adalah dengan menggunakan mesin timbang antropometri, petugas kesehatan yang melakukan pengukuran harus dilatih untuk memahami berat badan yang berisiko untuk perawakan pendek dan menyasar bayi di bawah usia 2 hingga 5 tahun.

Dikatakannya: Kalau kita membenahi perawakan pendek pada usia tersebut, maka itu akan menjadi tugas yang sulit, jadi sulit.Faktor lain yang menyebabkan perawakan pendek adalah berat badan bayi saat lahir yang rendah, minimal 2500 gram.

Untuk mengetahui pendek atau tidaknya bayi dapat dilihat dari pertumbuhannya saat hamil melalui USG, namun hal ini juga dapat dipastikan dengan pengukuran fisik dengan syarat bayi tidak bergerak sehingga dapat diukur dengan tepat. .

Pemerintah terus menurunkan angka pertumbuhan hingga mencapai target 14% pada tahun 2024. Marianos mengatakan intervensi harus dilakukan dari atas, mulai dari persiapan 6 bulan sebelum menikah, saat hamil hingga pasca melahirkan.

BKKBN juga menurunkan risiko stunting dari pemetaan keluarga 4T yaitu sangat muda, sangat tua (35-40 tahun), sangat dekat dan sangat tinggi sehingga membantu meningkatkan laju pertumbuhan hingga 70%.

Ia menambahkan: “Ada risiko keluarga melahirkan anak pendek, karena tidak memiliki sanitasi yang baik, air bersih, rumah tidak layak huni, lantai tanah, dan pendidikan ibu di bawah SMA juga mempengaruhi pertumbuhan pendek anak.” .

Bagi calon pengantin yang memiliki gangguan kesehatan sehingga tidak memungkinkan untuk hamil, disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi hingga kesehatannya memenuhi syarat kehamilan yang sehat.

Peran pasangan juga penting dalam menurunkan angka stunting, yakni memberikan makanan bergizi bagi ibu dan anak serta menghindari rokok untuk menjaga kualitas sperma agar menghasilkan anak yang sehat.

Koresponden: Fitrah Asy’ari
Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *