jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 25, 2024

JAKARTA (JurnalPagi) – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Imran Pambudi, MPHM mengatakan kewaspadaan orang tua menjadi kunci keberhasilan dalam menangani kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi pada anak.

Menurut Imran, kewaspadaan orang tua dalam memahami perubahan yang dialami anak diperlukan agar jika terjadi eksaserbasi demam berdarah, anak dapat lebih cepat ditangani oleh tenaga medis yang tepat dan terhindar dari korban jiwa akibat demam berdarah.

“Orang tua harus benar-benar memahami anaknya, terkadang mereka tidak bisa mengungkapkan penyakitnya. Padahal dokter sering kali mempercayai dokter untuk membuat diagnosis. Riwayat (wawancara medis). Penyakit dapat dijawab melalui wawancara dan tidak perlu menggunakan hasil laboratorium. Dengan pertanyaan sekitar 60% dapat diharapkan. Oleh karena itu, ketika anak terkena demam berdarah, orang tua harus mengetahui kondisi anaknya, kata Imran dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Minggu.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 5 Mei 2024, jika dilihat sebaran kasus DBD berdasarkan kelompok umur selama tiga tahun terakhir (2022-2024), kasus DBD terbanyak terjadi pada kelompok umur 15 hingga 2024. 44 tahun. dengan persentase 43% dari semua kelompok umur.

Namun jika melihat sebaran kematian akibat DBD menurut kelompok umur, dalam tujuh tahun terakhir angka kematian DBD tertinggi terjadi pada kelompok umur 5-14 tahun dengan persentase sebesar 53% dari seluruh kelompok umur terlihat.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penyakit DBD menyerang kelompok usia reproduksi, namun kematian terbanyak terjadi pada kelompok usia anak, yaitu 5-14 tahun.

Imran mengatakan, kematian anak akibat demam berdarah disebabkan oleh rendahnya imunitas anak serta imunitas kelompok usia produktif.

Selain itu, hal ini juga dipengaruhi oleh seringnya sulit menemukan gejala yang lebih buruk pada anak penderita demam berdarah karena yang bersangkutan tidak dapat menggambarkan secara tepat gejala yang dialaminya, sehingga yang sering ditemukan adalah anak tersebut sedang dalam kondisi kritis. kondisi

Oleh karena itu, ketika seorang anak tampak mengalami gejala demam berdarah atau pernah mengalami demam berdarah sebelumnya, ada baiknya Anda bertanya kepada orang tua atau pihak yang bertanggung jawab merawat anak mengenai perubahan apa saja yang dialaminya dan apa yang dirasakan anak

“Karena dia sering ditemui di Jakarta sedang mengurus bayi pengasuh bayi. Saat anak sakit, orang tuanya membawanya tetapi tidak mengetahui kondisinya. sementara pengasuh bayi Orang yang lebih mengetahui kondisi anak tetap berada di rumah dan tidak mengikuti pemeriksaan. Imran mengatakan, Oleh karena itu, komunikasi antara orang tua dan pihak yang mengasuh anak di rumah sangat penting untuk mengetahui kondisi anaknya.

Ada beberapa tanda yang dapat memberi sinyal kepada orang tua bahwa kondisi anak saat demam berdarah semakin parah, antara lain tidak membaik setelah suhu turun, anak terus menolak makan dan minum, sakit perut parah, lemas. Kelesuan, sampai-sampai anak ingin terus tidur.

Selain itu, perlu diwaspadai bila anak mengalami perubahan perilaku, seperti marah, tangan dan kaki anak pucat dan dingin, berdarah atau tidak buang air kecil lebih dari 4 hingga 6 jam.

Koresponden: Livia Cristianti

Hak Cipta © JurnalPagi 2024