jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 22, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengimbau seluruh jajaran pemerintah daerah Jawa Timur serius menyikapi prakiraan curah hujan pada Februari yang merupakan puncak awal musim hujan. 2024.

Ia mengatakan, prakiraan ini harus ditanggapi dengan serius seiring dengan bencana cuaca basah seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa daerah pada Januari 2024.

Prakiraan BMKG menyebutkan puncak musim hujan terjadi pada Januari 2024, salah satunya di Jawa Barat, disusul tanah longsor di Subang, dan banjir di Daye Kulot. Prakiraan ini harus ditindaklanjuti dengan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan daerah, kata Suharyanto dalam keterangannya, Selasa malam (16/1) di Jakarta.

Pada Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan dan Prakiraan Bencana Meteorologi Tahun 2024, Suharianto menyampaikan prakiraan curah hujan tahun 2024 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang mengalami puncak musim hujan pada bulan Februari. Wilayah Provinsi Jawa Timur, Selasa.

Selain Jawa Timur, wilayah lain yang diperkirakan akan mencapai puncak musim hujan pada Februari 2024 antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Suharyanto menguraikan beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak ancaman cuaca basah dan bencana air.

Ia menyatakan: Pertama, tanam vegetasi dan pangkas dahan pohon yang rawan patah, kemudian perkuat tanggul dan lereng sungai serta bersihkan drainase.

Selain itu, ia juga menyerukan penataan permukiman di bantaran sungai dan pengembangan jaringan komunikasi sebagai sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Sehingga jika terjadi bahaya, informasi tersebut dapat segera diketahui warga sekitar.

Suharyanto juga menyebutkan pembuatan rambu darurat dan jalur evakuasi, serta pengerukan sedimen sungai berguna untuk memulihkan kapasitas debit air.

Pada akhirnya, beliau menyampaikan: Terakhir, melalui teknologi modifikasi iklim (TMC), dapat dilakukan upaya untuk mengurangi intensitas curah hujan yang berdampak pada wilayah yang berisiko banjir dan tanah longsor.

Disebutkannya, meski perkiraannya pada bulan Februari, namun bukan berarti kewaspadaan kita akan berkurang pada bulan-bulan berikutnya, sehingga kita harus selalu meningkatkan persiapan dan kewaspadaan.

Dari total 38 kabupaten dan kota di Jatim, 27 diantaranya telah menyatakan status siaga darurat bencana hidrometeorologi dan tiga kabupaten telah menetapkan status tanggap darurat yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Blitar.

Gubernur Khoufife Bersihkan Sungai Menjelang Musim Hujan dan Banjir
PLN Pulihkan Seluruh Jaringan Listrik yang Rusak Akibat Banjir Lomajang
Banjir Jumbang Jatim, BRI Salurkan Bantuan Tanggap Bencana ke Warga Terdampak

Koresponden: Devi Nindi Sari Ramadhan
Redaktur: Atman Ahdiat
Hak Cipta © JurnalPagi 2024