Indonesia siap mendiskusikan dampak etis dari kecerdasan buatan dengan negara-negara ASEAN dan Asia-Pasifik

Jakarta (JurnalPagi) – Pemerintah Indonesia mengumumkan kesiapannya untuk berdialog Metode penilaian kesiapan (RAM) tentang Etika Kecerdasan Buatan dengan negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nizar Patria mengatakan Indonesia berkomitmen menyelenggarakan dialog interaktif antar negara untuk membahas masalah ini.

“Negara-negara anggota kawasan ASEAN dan Asia Pasifik bertukar pikiran dan pengalaman terkait penerapan ekosistem kecerdasan buatan di negaranya masing-masing. Dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu, Nizar mengatakan: “Kami membahas kesiapan penerapan pedoman etika AI.

Indonesia Mendorong Pendekatan Inklusif dalam Tata Kelola AI Global

Waspada Polarisasi, Kominfo Dorong Platform Digital Moderasi Konten

Nizar pun mengutarakan komitmen tersebut usai menggelar pertemuan dengan perwakilan kawasan ASEAN dan Asia Pasifik di Berdo Congress Center, Slovenia, Selasa (2/6).

Nizar meyakini Indonesia siap menjembatani pembahasan implementasi debat AI etika RAM yang akan digelar pada tahun 2024.

Ia menambahkan, sejumlah negara anggota ASEAN belum atau siap menerapkan Roma, namun beberapa negara sudah menunjukkan kesediaannya untuk menerapkannya. Ia berkata: “Oleh karena itu, bersama dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya, kami akan berusaha mempercepat proses Roma ini.

Dalam pengembangan AI, pemerintah Indonesia bertanggung jawab, sehingga tentunya dalam menyambut perdebatan RAM mengenai etika AI, Indonesia ingin berperan aktif sebagai fasilitator.

Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi yang kuat dari seluruh negara dalam cara memandang, memanfaatkan, dan berkolaborasi mengenai AI. Termasuk juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di setiap negara untuk menyikapi perkembangan terkini tata kelola AI, jelasnya.

Untuk memahami secara tepat kecerdasan buatan sebagai teknologi terkini, Wakil Menteri Nizar Patria menilai pentingnya peran aktif semua pihak dalam pengembangan regulasi terkait kecerdasan buatan.

Ia menyatakan diskusi ini penting mengingat kecerdasan buatan akan menentukan masa depan dunia yang lebih inklusif.

Sehingga tidak ada negara yang begitu dominan atau kuat dalam mengatur negara lain dalam pengembangan kecerdasan buatan. Karena teknologi AI akan mempengaruhi seluruh manusia di bumi, maka diperlukan visi dan prinsip yang sama. Tidak ada yang tertinggal Itu harus dilaksanakan.”

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan SE AI fokus dirancang sebagai panduan etika

Panduan SE AI hendaknya memperhatikan perkembangan inovasi anak negeri

Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *