IDI melarang influencer medis mempromosikan produk perawatan kulit di media sosial, dengan menyoroti kode etik: Okezone Health

Perkembangan Media sosial telah membuat banyak penjual produk kecantikan atau perawatan kulit tersedia secara online. Bahkan saat ini banyak dokter yang menjadi influencer dan memasarkan produknya melalui media sosial.

Menanggapi tren yang berkembang ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melarang dokter berpengaruh mempromosikan produk perawatan kulit di media sosial mereka. Sebab, etika dokter dalam menggunakan jejaring sosial diatur dalam fatwa akhlak dokter.

Dewan Kehormatan Etik Dokter (MKEK) IDI, Joko Vidyarto, mengingatkan seluruh dokter berpengaruh yang gemar mempromosikan produk kecantikan dan kesehatan di media sosial agar mengecek regulasi terkait.

Ia menjelaskan: Kegiatan mengiklankan segala jenis produk kesehatan melalui jejaring sosial dilarang keras bagi semua dokter. Sudah lama diatur dalam kode etik, namun kenyataannya masih banyak dokter yang tidak mempraktikkannya.

Fatwa Etik Dokter di Media Sosial mengatur bahwa dokter tidak boleh beriklan, apalagi jika iklan tersebut berkaitan erat dengan klaim kesembuhan, kecantikan, dan kebugaran.

Faktanya, MKEK sendiri telah mengeluarkan dua fatwa yang juga mengatur cara penyebutan etika sosial di media sosial, kata Joko Vidyarto mengutip seminar Etika: Dilema Kedokteran. Pengobatan menggunakan pendekatan berbasis penelitian. Layanan di saluran YouTube PB IDI, Rabu (6/3/2024).

Selain itu, Joko juga menjelaskan bahwa secara internasional atau di negara lain, dokter masih diperbolehkan untuk mempromosikan produknya. Namun hal ini tidak diperbolehkan di Indonesia. Meski demikian, dokter tetap bisa beriklan di media sosial masing-masing.

Namun Joko menjelaskan, iklan yang dipasang dokter di media sosialnya hanyalah iklan layanan masyarakat.


Ikuti berita Okezone Berita Google

Ikuti terus berita terkini Okezone hanya dengan satu akun di ORION, daftar sekarang
klik disiniDan tunggu kejutan menarik lainnya

Katanya: Tapi iklan layanan masyarakat baik bagi dokter yang mengubah perilaku hidup sehat masyarakat.

Joko juga mengimbau seluruh dokter untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Terutama dalam menjaga kerahasiaan informasi kesehatan pasien.

Ia juga menyarankan dokter untuk membuat dua akun berbeda di jejaring sosial. Tujuannya adalah untuk memisahkan atau membedakan akun pribadi dengan akun yang digunakan untuk tujuan pendidikan publik.

Sekadar informasi, dalam Surat Keputusan Nomor 029/PB/K/MKEK/04/2021 tanggal 30 April 2021 telah dikeluarkan fatwa etika dokter dalam pemanfaatan jejaring sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *