jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 22, 2024

JAKARTA (JurnalPagi) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang disiapkan sendiri oleh orang tua di rumah memiliki kandungan dan takaran yang jauh lebih baik dibandingkan MPASI yang dijual di pinggir jalan.

Ini harus dilihat dari konteks mikronutrien, sangat terbelakang. Meskipun pada label ayam tertulis bayam, brokoli, dan salmon, namun ini banyak ditemukan di pedesaan, namun apa yang dimaksud dengan organik (standar) di pasar industri atau rumah tangga? Kepala Bidang Koordinasi Gizi dan Penyakit Metabolik (UKK) IDAI, kata Dr. dokter. Titis Pravitasari, SpA(K) pada acara HUT IDAI ke-70 di Jakarta, Sabtu.

Menanggapi maraknya MPASI dalam wadah yang dijual di sudut-sudut jalan Jakarta, Titis menegaskan, makanan yang dijual tidak bisa dijamin kesehatannya karena bisa jadi makanan tersebut tidak melalui proses produksi yang benar.

MPASI yang dijual dikhawatirkan mengandung bakteri karena terlalu lama dibiarkan di luar atau tidak disetujui dan diakui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pakar Jelaskan Manfaat Telur Sebagai Sumber Protein Serbaguna di MPASI
KOPMAS menunjukkan masih banyak ibu yang melakukan kesalahan dalam mengganti ASI dengan ASI.

“Kalau organik menurut definisi BPOM bisa dikatakan organik, tapi kalau komersial dalam negeri patut dipertanyakan karena izinnya dari daerah, bukan BPOM, jadi perlu dievaluasi,” kata Titis.

Tak perlu dikatakan, katanya, selain masalah perizinan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan nutrisi dan dosis MPASI itu sendiri.

Titis mencontohkan: Terkadang MPASI dibuat dalam jumlah banyak, namun kandungan gizinya rendah.

Oleh karena itu, pihaknya tidak menyarankan para orang tua seperti ibu bekerja untuk bersikap bijak dalam membeli MPASI agar gizi anaknya lebih terjaga, terhindar dari segala macam bakteri dan tidak tergiur harga murah.

Menurutnya, sebaiknya MPASI diberikan kepada anak langsung di rumah. Ibu dapat memastikan proses produksinya terlindungi dari berbagai kontaminasi bakteri.

Selain itu rasa dan takarannya bisa disesuaikan langsung dengan kebutuhan anak. Menu yang dibuat juga bisa lebih beragam.

Dalam kesempatan tersebut, Titis juga mengingatkan kepada seluruh orang tua untuk tidak menggunakan MPASI sebelum anaknya mencapai usia enam bulan atau lebih. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan saluran pencernaan anak menutup atau tersumbat akibat ketidakmampuan anak dalam mencerna tekstur makanan yang terlalu kasar untuk anak seusianya.

“Bisa juga jadi cara penularan dari ibu ke bayinya. Sarannya kalau dia belum siap, kita harus memberinya makanan cair karena dia hanya bisa menghisap dan menelan, belum bisa mengunyah. pertama. Titis berkata: Kami hanya membawa makanan dari depan ke belakang, jadi harus lembut.

BKKBN: Bayi Rentan Stunting Saat Beralih dari ASI Eksklusif ke MPASI.

Para ahli tidak menganjurkan penambahan bumbu pada MPASI yang dikonsumsi bayi

Pakar: Perhatikan Tekstur MPASI Saat Ajarkan Bayi Makan

Koresponden: Harilvita Dharma Shanti
Diedit oleh: Zita Mirina
Hak Cipta © JurnalPagi 2024