jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 25, 2024

Cimahi (JurnalPagi) – Brand fashion lokal asal Bandung, Elizabeth, berbagi cerita menarik dalam membangun kepercayaan dan mempertahankan bisnis fashionnya selama lebih dari enam dekade dengan secara konsisten berpegang pada prinsip keberlanjutan mulai dari merancang produk hingga menjaga kelestarian lingkungan.

Brand Manager Elizabeth Rusty Geetha Pribadi mengatakan, awalnya usaha ini dirintis oleh sepasang suami istri bernama Handuku Sobali dan Elizabeth Halim pada tahun 1963 dengan produk tas travel yang mengandalkan metode pemasaran door to door atau disebut juga. tunawisma.

Dengan menjaga keberlanjutan melalui adaptasi di berbagai aspek, termasuk pemasaran digital, Elizabeth berhasil mempertahankan kehadirannya dan memperluas cakupan bisnisnya, menjual lebih banyak variasi produk, tidak terbatas pada tas, tetapi juga pakaian jadi dan alas kaki

Elizabeth Gandeng Sofia Latjoba Sebagai Brand Ambassador

“Tahun 2018 kami melakukan digitalisasi, salah satunya bergabung dengan Tokopedia. Saat pandemi semua toko kami tutup, tapi on line Operasi terus berjalan dan bahkan pendapatan kami meningkat 3-5 kali lipat. “Ini strategi kami untuk bertahan tanpa merumahkan karyawan di masa sulit ini,” kata Gita saat media visit bersama Tokopedia di pabrik tas Elizabeth di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (12/6).

Terus menjajaki perubahan dalam pemasaran digital, Geetha mengatakan Elizabeth tidak hanya mengandalkan penjualan dari 98 toko offline miliknya, namun sebenarnya bisa menjangkau lebih banyak pelanggan nasional dengan bertransaksi di platform online.

Elizabeth terus mengikuti tren yang muncul dalam pemasaran digital, seperti berpartisipasi dalam acara penjualan di Twin Dates and Sales. Hidup.

Langkah tersebut pun membuahkan hasil, salah satu keberhasilan pemasaran online yang dilakukan Elizabeth terlihat dari munculnya pelanggan asal Papua yang saat ini belum ada toko Elizabeth di pulau tersebut.

Elizabeth Rilis Film ‘Blossom In September’ dan Jelaskan Indahnya Bunga Mekar.

 

Produk fashion yang diproduksi oleh brand fashion asal Bandung, Elizabeth. Elizabeth merupakan brand fashion yang berdiri sejak tahun 1963. Foto diambil saat berkunjung ke pabrik Elizabeth di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (12/6/2024). (JurnalPagi/Livia Kristianti)

Elizabeth Luncurkan Aplikasi Untuk Memudahkan Pelanggan Berbelanja

Brand lokal asal kota Paris van Java ini tidak hanya menjaga keberlanjutan dengan mengikuti tren pemasaran, namun juga berhasil mempertahankan eksistensinya dengan memperbarui desain produknya secara rutin.

Misalnya saja untuk produk terlaris yaitu tas, desain baru dirilis Elizabeth setidaknya setiap dua minggu sekali untuk menjaga minat pelanggan terhadap variasi tas.

Desain yang ditawarkan juga disesuaikan dengan target pasar, saat ini kategori pelanggan Elizabeth ada empat generasi mulai dari baby boomer Kepada generasi Z.

Untuk generasi tua seperti baby boomer Dan Generasi X, desain tas yang simpel dan pilihan warna netral tetap dipertahankan untuk memuaskan selera kedua generasi sebagai pelanggan setia.

Sementara untuk generasi muda milenial dan Z, Elizabeth menyiapkan bentuk tas yang unik dan pilihan warna yang beragam. berwarna-warni Dengan cara ini calon pelanggan bisa tertarik untuk menjadi pelanggan setia.

Mengenai strategi Elizabeth untuk menjaga keberlanjutan bisnisnya dari segi desain, Gita mengatakan, “Jadi kami mengadaptasi tren dari luar negeri, namun desainnya kembali disesuaikan dengan pasar di Indonesia, dan juga kami sesuaikan dengan selera pelanggan Elizabeth.”

Syal merupakan salah satu produk fashion yang dihasilkan oleh brand fashion asal Bandung, Elizabeth. Elizabeth merupakan brand fashion yang berdiri sejak tahun 1963. Foto diambil saat berkunjung ke pabrik Elizabeth di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (12/6/2024). (JurnalPagi/Livia Kristianti)

Koleksi Fashion Remaja Putri dengan Mobilitas Tinggi

Keberadaan toko Elizabeth selama lebih dari enam dekade tidak lepas dari kontribusi keberlanjutan yang mengutamakan lingkungan.

Tidak hanya lingkungan hidup, lingkungan hidup yang dimaksud di sini juga mencakup penyerapan energi lokal di sekitar pabrik Elizabeth.

Dari sisi lingkungan, Elizabeth memperhatikan keberlanjutan dengan memastikan proses produksi di pabriknya menghasilkan limbah sesedikit mungkin.

Dengan menggunakan teknologi berupa mesin pada proses produksinya, maka akan lebih sedikit kain yang tersisa pada produk tas, sepatu, dan pakaian.

Lanjutnya, kami bahkan mendapat predikat biru pengelolaan sampah dari Badan Lingkungan Hidup Kota dan Provinsi, dan ini menunjukkan bahwa kami terorganisir secara administratif dan aktif dalam pelaksanaannya. Kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang Gita berkata: Dalam sistem produksi kami.

Tampaknya keberlanjutan di sisi lain lingkungan berupa menarik tenaga kerja lokal dan pemberdayaan perempuan juga berdampak baik bagi keberadaan Elizabeth.

Brand Director Elizabeth Rusty Gita Pribadi (kanan), Chief Designer Elizabeth Vernaline Sobali (tengah) dan Factory Director Elizabeth Julius Jungi Farencione (kiri). Elizabeth merupakan brand fashion yang berdiri sejak tahun 1963. Foto diambil saat berkunjung ke pabrik Elizabeth di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (12/6/2024). (JurnalPagi/Livia Kristianti)

Misalnya saja di sebuah pabrik yang berlokasi di Simahi, dari 800 karyawannya, mayoritas adalah perempuan dan berasal dari sekitar pabrik.

Cara pemberdayaan ini efektif dan tepat sasaran, dengan tetap menjaga kesejahteraan para pekerja yang berasal dari masyarakat sekitar, produksi Elizabeth dapat tetap terjaga kualitasnya, sehingga setiap produk yang dihasilkan memuaskan dan pada akhirnya berujung pada peningkatan penjualan.

Elizabeth Gelar Workshop Fashion

Koresponden: Livia Cristianti
Redaktur : Siti Zulikha
Hak Cipta © JurnalPagi 2024