DPR berharap TVRI dan RRI tidak menayangkan konten yang merendahkan martabat mereka

Saya harap TVRI dan RRI tidak membicarakan dehumanisasi

JAKARTA (JurnalPagi) – Anggota Komisi I DPR RI Cristina Ariani berharap Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan LPP Radio Republik Indonesia (RRI) tidak mempromosikan hal-hal yang merendahkan martabat manusia.

“Saya harap TVRI dan RRI tidak mempromosikan hal-hal yang tidak manusiawi dan martabat manusia,” kata Cristina dalam pertemuan LPP TVRI dan LPP RRI dengan Komisi I DPR di Jakarta.

Cristina mengatakan, saat ini ada fenomena mengemis secara online yang dilakukan masyarakat melalui platform digital seperti TikTok.

KPI: TV harus selektif memilih konten program dari konten viral

Menurutnya, cara-cara mengemis secara online tergolong melanggar harkat dan martabat manusia, di antaranya mandi lumpur pada lansia.

Untuk itu, dia mendesak LPP TVRI dan RRI berperan dalam mengembalikan martabat Indonesia sebagai bangsa yang beradab.

“Jadi bapak ibu disini memiliki peran penting untuk mengembalikan martabat bangsa sebagai bangsa yang beradab,” ujar Christina.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotosno memastikan pihaknya tidak akan menyiarkan hal-hal yang menghina kemanusiaan atau merendahkan martabat manusia, baik di program terestrial maupun di media sosial.

“Nanti kalian bisa cek di TikTok kami, di Instagram kami, kami tidak pernah melakukan hal yang menghina kemanusiaan dan seperti yang kami lihat di platform berbeda. Saya kira itu komitmen kami untuk menjaga itu semua, termasuk siaran di lapangan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Manajer LPP RRI Hendrasmo. Dia setuju untuk tidak menyiarkan subjek yang tidak manusiawi dan memprioritaskan subjek yang mengangkat martabat manusia.

“Kami sepenuhnya setuju untuk tidak terjebak dalam isu-isu yang tidak manusiawi dan mengangkat martabat manusia. Khawatir Sekali,” katanya.

Kemenkominfo pakai SE Mensos sebagai dasar penghapusan konten mengemis online.

Kemenkominfo minta platform digital hapus konten ‘mengemis online’

Koresponden: Fetor Rochman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *