jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 24, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Dokter Spesialis Kandungan dan Obstetri Prof. dokter. dokter. Noroyono Wibowo, Sp.OG, Subsp.KFm (K), mengimbau ibu hamil untuk memantau asupan hati sebagai sumber zat besi di awal kehamilan karena mengandung vitamin A yang tinggi.

“Pada ibu hamil, konsumsi liver harus benar-benar dikontrol, karena kadar retinoid atau vitamin A di liver sangat tinggi, jika melebihi batas atas maka ada risiko kemungkinan cacat pada janin di awal kehamilan,” kata Noriono. , yang berada di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, dalam diskusi kesehatan yang digelar secara online di Jakarta, Selasa.

Hati, baik hati sapi maupun kambing. Ini adalah sumber yang memiliki lebih banyak zat besi daripada daging merah. Selain daging merah dan hati, ibu hamil juga bisa menambah asupan zat besi dengan mengonsumsi makanan seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur mayur, dan kacang-kacangan untuk mencegah anemia defisiensi besi atau anemia defisiensi besi.

Anemia pada ibu hamil bisa mempengaruhi kecerdasan bayi yang dikandungnya

Ibu hamil rentan mengalami kekurangan zat besi karena janin sendiri membutuhkan zat besi untuk tumbuh. Memang benar, gizinya tidak hanya berlimpah, tapi juga seimbang. Oleh karena itu, ia juga membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, serta mineral dan vitamin. TIDAK “Itu hanya sayuran.” kata Noriono.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, Noriono mengatakan angka anemia pada kehamilan kurang lebih mencapai 48,9 persen, dan 60 hingga 70 persen anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Gejala utama yang dapat dirasakan oleh wanita hamil dengan anemia defisiensi besi adalah kelemahan dan melambatnya reaksi otak, yang merupakan beberapa kemungkinan penyebab anemia.

Jika ada tanda dan gejala, Noriono menyarankan untuk memastikannya dengan memeriksa kadar hemoglobin.

Selain digunakan untuk membentuk sel darah merah (eritrosit) pada hemoglobin, zat besi juga digunakan untuk produksi energi. Zat besi sendiri merupakan salah satu komponen neurotransmiter seperti serotonin, yaitu zat yang digunakan untuk berpikir dan bereaksi.

Risiko kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan atau kecilnya janin karena zat ini juga berkaitan dengan penyusun kelenjar tiroid, kata Noriono. Kadar zat besi dalam darah juga diperlukan untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida yang diperlukan untuk oksigen pada janin.

Zat besi berhubungan dengan pembentukan energi, zat besi berhubungan dengan pembentukan neurotransmiter untuk saraf. Zat besi juga berkaitan dengan tiroid dan paratiroid, sehingga berkaitan juga dengan insulin atau tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, kekurangan zat besi menimbulkan banyak dampak, jelasnya.

Dokter: Cegah Anemia pada Ibu Hamil dengan Makanan Kaya Zat Besi

Kekurangan zat besi juga bisa mempengaruhinya Pascapersalinan Atau masa pasca kehamilan Saat melahirkan, wanita yang kekurangan zat besi tidak memiliki banyak energi sehingga prosesnya akan memakan waktu lebih lama.

Kekurangan zat besi juga meningkatkan risiko perdarahan akibat kontraksi rahim yang tidak mencukupi. Perdarahan yang sangat banyak saat melahirkan dapat menyebabkan kematian.

Noriono menghimbau para wanita di trimester pertama untuk melakukan skrining terhadap kemungkinan anemia melalui tes darah tepi lengkap (DPL). Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit dan pemeriksaan faktor gizi lainnya agar dapat tercapai kehamilan yang baik dan janin dapat tumbuh sehat.

Kemenkes: Lindungi Ibu Hamil dari Anemia untuk Cegah Stunting

Seberapa Umumkah Anemia Defisiensi Besi di Indonesia?

Pakar nutrisi menyarankan ibu hamil untuk mengonsumsi segala jenis buah-buahan

Koresponden: Fitrah Asy’ari
Editor: Natisha Andarningtias
Hak Cipta © JurnalPagi 2024