jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 22, 2024

B. Braun bertujuan untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 50% secara global pada tahun 2030.

Karawang (JurnalPagi) – Perusahaan teknologi kesehatan asal Jerman B. Braun Indonesia meresmikan pengoperasian pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1,2 MW (peak MW) di pabrik B. Braun Indonesia, di Cikampek, Karawang. Jawa Barat, Kamis.

“Pemanfaatan PLTS untuk menyediakan energi listrik ke berbagai aset kami merupakan salah satu inisiatif B. Braun Indonesia dalam upaya transisi energi dan pengurangan emisi,” kata Rainer Ruppel, Presiden B. Braun Indonesia, di Karawang. bahan bakar fosil.” , Kamis.

Menurut Rainer, pengoperasian PLTS ini merupakan langkah pemanfaatan energi terbarukan dan upaya transisi energi perusahaan untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan kebijakan energi baru terbarukan (EBT) yang diterapkan Indonesia. Peluncuran selesai. Pemerintah.

PLTS tersebut mampu menghasilkan listrik sebesar 1.673 gigawatt hour (GWh) per tahun dan dapat memenuhi sekitar 20-30% kebutuhan listrik di pembangkit B. Braun Indonesia. Tujuan dari kinerja panel surya ini adalah untuk mengurangi emisi hingga 346 ton CO2e atau 25% emisi karbon per tahun.

Reiner juga mengatakan bahwa B. Braun telah menetapkan target global pengurangan emisi CO2 sebesar 50 persen pada tahun 2030.

“Pengoperasian PLTS sejalan dengan tujuan pemerintah untuk mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 dan netralitas karbon pada tahun 2060,” kata Rainer.

B. Braun Presiden Indonesia Rainer Ruppel (tengah) dan Presiden Tenaga Kerja dan Transfer Tenaga Kerja Kabupaten Karawang Rosmalia Dewi (kiri) memeriksa sampel panel surya dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dioperasikan oleh B. Braun Indonesia. JurnalPagi/Farhan Arda Nugraha



Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Perpindahan Tenaga Kerja Karawang, Razmalia Devi yang turut hadir dalam pembukaan PLTS B. Braun Indonesia memuji upaya B. Braun Indonesia dalam mengkonversi energi berbasis fosil menjadi energi surya.

“Kami berharap apa yang dilakukan B. Braun Indonesia dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk mengikuti transisi penggunaan energi konvensional ke energi surya,” kata Rosmalia.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan iklim tropis mempunyai banyak potensi energi surya. Selain itu, penggunaan energi berbasis fosil juga menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

“Kami tidak merasakannya karena hanya mendapatkan batu bara, namun kerusakan lingkungan di Kalimantan dan Sumatera sangat besar. Namun dengan adanya peralihan penggunaan energi surya ini, kami berharap dapat turut menyelamatkan lingkungan,” kata Rosmalia.

Pemerintah Targetkan PLTS 50 MW Pasok IKN pada 2024
SEEAA dukung pendanaan implementasi PLTS Atap di Indonesia

Koresponden: Farhan Arda Nograha
Redaktur : Bodhisantoso Budiman
Hak Cipta © JurnalPagi 2024