jurnalpagi.com

Berita Online Terlengkap Indonesia

Juli 24, 2024

Jakarta (JurnalPagi) – Departemen Kedokteran Jiwa (KSM) Rumah Sakit Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Prof. dokter. dokter. Tjhin Wiguna, SpKJ(K) mengatakan, anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD yang telah diobati sebaiknya menjalani terapi perilaku agar anak ADHD dapat mengontrol perilakunya seperti anak pada umumnya dan terhindar dari perundungan.

“Meski sudah diobati, sebaiknya tetap diberikan terapi perilaku, sehingga anak ADHD yang mampu mengontrol perilakunya umumnya lebih menyukai anak yang berperilaku,” kata Tjhin dalam diskusi online di Jakarta. Senin.

ADHD adalah gangguan defisit perhatian, seperti tidak memperhatikan tugas tertentu atau tidak mampu mengingat apa yang harus dilakukan. Anak dengan kelainan ini juga memiliki perilaku hiperaktif dan impulsif seperti tidak bisa duduk diam, sering berjalan atau berbicara di kelas, atau menunjukkan perilaku agresif.

Game Komputer Sebagai “Obat Digital” untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Anak dengan ADHD bisa menjadi korban atau pelaku bullying karena hiperaktif dan lepas kendali. Seringkali mereka juga menjadi korban “kambing hitam” bullying karena dianggap lebih lemah dan berperilaku berbeda di antara teman sebayanya.

Jika anak tersebut pernah dirawat, sebaiknya orang tua memberitahukan kepada sekolah atau guru bahwa anak tersebut telah dirawat dan dapat berperilaku seperti teman-temannya, ujarnya. Terapis juga kerap memberikan keterampilan untuk meningkatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan Anda beradaptasi dengan lingkungan.

Dengan meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya, anak akan semakin percaya diri jika terjadi perilaku yang tidak pantas.

“Jadi, kalau ada yang berbuat salah pada mereka, mereka harus menunjukkan bahwa mereka sudah berubah,” ujarnya.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, “Jika lingkungan masih tidak menerima atau mengulangi hal yang sama, sebaiknya orang tua menghubungi sekolah atau pelaku intimidasi agar guru dapat membina anak dan membantu anak lain untuk menghindarinya. anak-anak yang terkena dampak untuk menerima penyakit ini. ADHD yang diperlakukan apa adanya.

Orang tua dapat menghubungi pihak sekolah atau pelaku intimidasi agar guru dapat mendisiplinkan anak-anak tertentu yang masih menganggap anak-anak tersebut (ADHD) masih anak-anak. “Orang lain bisa menerima anak ini apa adanya,” katanya.

Lily Allen Ungkap Dirinya Didiagnosis ADHD

Ciri-ciri Orang Dewasa yang Mungkin Mengalami ADHD

Dokter Sebut Hiperaktif Bisa Diturunkan dari Orang Tua

Koresponden: Fitrah Asy’ari

Hak Cipta © JurnalPagi 2024