Akademisi mengajak warga untuk mengecek keakuratan informasi di jejaring sosial

JAKARTA (JurnalPagi) – Puri Bastari Mardani, dosen Universitas Pembangunan Nasional Jakarta, mengajak warga menyaring dan mengecek keaslian informasi yang beredar di media sosial sebelum dibagikan.

Dalam siaran pers pemerintah yang dikeluarkan pada hari Sabtu, Puri mengatakan, “Masyarakat diharapkan dapat memilih dan memverifikasi informasi yang banyak beredar di media sosial. Sebelum menyebarkannya, periksa fakta informasi tersebut. Lakukan.”

“Kalau tidak punya waktu untuk mengecek fakta, maka tidak perlu berbagi informasi,” ujarnya pada lokakarya literasi digital bertajuk “Pentingnya Kritis di Internet dalam Melawan Penipuan” yang diselenggarakan Kementerian Perhubungan. Informasi mengiringi Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi (GNLD) di Sulawesi pada Kamis (3/7).

Ia meminta masyarakat waspada dengan menyebutkan penipuan banyak tersebar melalui media sosial.

Berdasarkan data Ikatan Komunikasi Indonesia, 92,4 persen penyebaran hoaks dilakukan melalui media sosial, 62,8 persen melalui aplikasi pesan, 34,9 persen melalui situs web, 8,7 persen melalui televisi, dan 9,3 persen melalui saluran lain seperti media cetak, radio, dan e-mail. surat.

Puri menilai media sosial lebih sering dijadikan tempat menyebarkan kebohongan karena platformnya populer, terbuka, menghubungkan banyak orang, interaktif, dan memungkinkan transfer informasi secara cepat dan mudah. Tepat waktu.

Selain itu, setiap pengguna dapat berpartisipasi dalam pembuatan konten dan berbagi konten serta dapat memiliki lebih dari satu akun, baik itu akun pribadi, akun bisnis, atau akun palsu untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Menurut data We Are Social, pada tahun 2024, terdapat 5,35 miliar pengguna internet dan 4,95 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia.

Data We Are Social pada Januari 2024 menunjukkan terdapat 185,3 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial di Indonesia.

“Masyarakat Indonesia sendiri bisa menghabiskan 19,7 persen waktunya di jejaring sosial per hari. Persentase ini menempati urutan ketujuh di dunia,” kata Puri.

Menurut Shalauddin, Relawan Sekretaris Teknologi Informasi dan Komunikasi Sulawesi Barat, pengguna internet lebih mudah terkena penipuan karena faktor budaya berbagi, perasaan suku, agama, dan ras yang masih kuat, serta terjebak dalam budaya yang salah. kehidupan sosial.mengambil Ketidakmampuan untuk membedakan antara ranah privat dan publik serta komersialisasi konten.

Salah al-Din berkata: Mengungkap hoax ini adalah pintu masuk polarisasi, ketidakpercayaan terhadap fakta, dan menghancurkan otoritas ilmu pengetahuan yang bergerak seiring dengan momentum politik.

Menurut Salahuddin, dengan pemahaman kolektif dan bukan pada tingkat individu, penyebaran tipu muslihat bisa dicegah.

Ia juga menekankan perlunya upaya memberantas penyebaran kecurangan dari hulu hingga hilir.

Upaya hulu dapat mencakup pendidikan literasi digital kepada masyarakat, serta pelacakan penipuan oleh lembaga dan komunitas yang kompeten. Sementara di hilir, penindakan bisa dilakukan terhadap pihak-pihak yang aktif berbuat curang.

“Dari sisi penegakan hukum bisa melalui pemblokiran akun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan tindakan hukum oleh pihak kepolisian,” kata Salahuddin.

Salahuddin menjelaskan cara mengatasi hoaks yang tersebar di media sosial dan internet dengan 3M.

M pertama adalah mengidentifikasi informasi yang disebarkan di media sosial dengan cara mengecek akun penyebarnya dan memastikan kontennya bersifat provokatif.

M yang kedua adalah pengelolaan informasi dengan memeriksa alamat website atau sumber berita dan membedakan opini dengan fakta.

Salahuddin berkata: Ketiga, kita bisa memutus rantai tidak adanya penyebaran informasi ini.

Workshop Literasi Digital merupakan salah satu rangkaian kegiatan Program Tumbuh Kapabilitas Digital Indonesia yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama GNLD Siberkreasi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Siapkan Langkah Tangani Meluasnya Kecurangan Pemilu
Pemerintah Minta Masyarakat Hati-hati Terhadap Kecurangan Kampanye Pemilu

Koresponden: Fetor Rochman
Redaktur: Meriati
Hak Cipta © JurnalPagi 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *