PENGHASILAN MENGGIURKAN, INI ALASAN PELAMAR DRIVER GO-JEK MEMBLUDAK

PELAMAR GO-JEKDua operator penyedia layanan jasa ojek sepeda motor membuka pendaftaran di sekitar area Gelora Bung Karno, Senayan. Diperkirakan total sekitar 8.000 orang berduyun-duyun untuk bisa bekerja menjadi pengendara ojek untuk perusahaan Go-Jek dan GrabBike. Mereka rela antre di bawah terik sinar matahari.

Sekitar 3.000 orang sudah memadati kawasan Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, sejak Rabu (12/8) pagi hingga tengah hari. Kedatangan ribuan orang itu untuk melamar pekerjaan di Go-Jek.

Mereka rela antre berjam-jam di bawah terik matahari untuk bergabung ke dalam Go-Jek. Beberapa panitia sibuk mengatur sekitar empat barisan yang mengular hingga lebih dari 15 meter.

Sebelumnya, para pelamar kerja mendaftarkan diri melalui pesan singkat ke beberapa nomor yang ditentukan oleh Go-Jek. Jika telah mendapatkan balasan, mereka dibolehkan masuk ke barisan antrean sebelum masuk ke dalam Hall Basket Senayan.

Setelah itu, para pelamar dipanggil dan diwawancara. Mereka juga dibekali telepon seluler sebagai alat komunikasi mendapatkan penumpang. Tidak hanya itu, para pelamar juga diberikan helm dan jaket Go-Jek.

Namun, bagi para pelamar yang belum mendapatkan balasan pesan singkat dari Go-Jek, mereka terpaksa mendaftar ulang dan akan dipanggil sekitar tiga hingga tujuh hari. Didit (44), misalnya, belum memiliki balasan pesan singkat meski telah mendaftar melalui pesan singkat sekitar dua minggu lalu.

“Katanya, ada ribuan SMS yang masuk. Semua pada berlomba jadi tukang ojek,” ujarnya. Menenteng map yang berisi beberapa persyaratan masuk Go-Jek, Didit kembali mendaftar ulang untuk memastikan dirinya dapat masuk Go-Jek. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain fotokopi STNK, surat izin mengemudi, kendaraan roda dua, dan kartu keluarga.

Demi Go-Jek, Didit rela mengesampingkan pekerjaannya selama sepuluh tahun sebagai karyawan katering di Jakarta. Gaji sekitar Rp 2,5 juta pun ia tanggalkan untuk menjadi tukang ojek di Go-Jek. “Katanya, di sini bisa dapat sekitar Rp 300.000 per hari,” kata Didit.

Bapak dua anak ini merasa gajinya sebagai katering tidaklah cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Sedikitnya, Rp 1 juta telah ludes untuk biaya kontrakan rumah di daerah Palmerah dan biaya sekolah kedua anaknya setiap bulan. “Jadi, semoga dapat panggilan dan diterima jadi tukang Go-Jek,” ujarnya diiringi senyum.

Panji Anugrah (28), seorang pelamar Go-Jek, juga mengaku memilih Go-Jek dan meninggalkan pekerjaannya sebagai kurir sebuah perusahaan pengantar barang karena tergiur penghasilan Go-Jek. “Saya sudah hafal jalanan di Jakarta. Jadi, lebih mudah bagi saya untuk kerjaan ini,” katanya.

Namun, siang ini, Panji belum dapat menjadi anggota Go-Jek karena belum mendapatkan balasan pesan singkat dari penyedia jasa transportasi tersebut. “Saya akan menunggu kabar. Soalnya, pekerjaan ini lagi diminati,” ujar Panji yang sempat tertidur menanti giliran dipanggil oleh panitia Go-Jek.

Go-Jek hadir di tengah keruwetan transportasi di Jakarta. Pemesanan melalui gawai dan tarif yang sudah ditentukan membuat warga Ibu Kota kian meminati Go-Jek dibandingkan dengan ojek konvensional.

Pendaftaran Go-Jek berlangsung sejak Selasa (11/8) hingga Jumat (14/8) di Hall Basket Senayan. Setiap hari pendaftar diperkirakan 4.000 orang. Sumber : kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015 Frontier Theme