KRISIS DAGING SAPI, DUBES AUSTRALIA HARAP KERAN IMPOR KEMBALI DIBUKA

duta besar australia paul grigson angkat bicara soal langkahnya daging sapiBukan hanya krisis kekeringan yang melanda Indonesia saat ini, namun persediaan daging sapi pun semakin krisis, belum ada titik terang untuk pemecahan masalah ini, apa penyebab hal ini belum diketahui, hanya saja para pedagang daging potong menganggap ada permainan pemerintahan dibalik krisis daging sapi ini. Dampaknya sudah jelas, kini para pedagang daging pun mogok karena tak sanggup untuk membeli dan kembali menaikkan harga jual, mereka berpikir masyarakat tidak akan lagi membeli daging sapi dengan harga lebih tinggi.

Mendengar kabar ini pihak Australia pun yang selama ini menjadi pemasok daging terbesar ke Indonesia angkat bicara melalui Duta Besarnya untuk Indonesia. Pembatasan impor daging oleh pihak Indonesia 2 tahun belakangan ini memang sangat besar dampaknya sehingga terjadi seperti ini menurutnya.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, menilai persediaan sapi potong di Indonesia harus lebih dicukupi. Oleh karenanya, keran impor sapi potong harus kembali dibuka.

“Sebab, salah satu cara untuk menjaga harga tetap stabil adalah memiliki persediaan yang cukup, dan kami berhubungan dengan Pemerintah Indonesia untuk memastikan hal tersebut,” kata Grigson, saat ditemui di Kantor Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2015).

Pernyataan Grigson ini disampaikan saat Badan Urusan Logistik (Bulog) bernegosiasi dengan pemilik daging sapi di Australia untuk mengimpor 50 ribu ton daging sapi. Langkah tersebut diambil karena persediaan daging sapi di Indonesia mengalami krisis yang menyebabkan harga melonjak.

Hal serupa disampaikan Ketua DPD Irman Gusman. Dia mengatakan, untuk menjaga kestabilan harga maka pelarangan impor harus dihentikan. Selain itu, dia menilai industri peternakan dalam negeri harus didorong secara bertahap tanpa mengorbankan stabilitas harga.

“Jangan tidak impor, tapi akibatnya barang langka, harga mahal. Jika harga itu naik akan ada inflasi. Saya setuju kemandirian ekonomi. Tapi, ekspor impor seimbang. Tugas negaralah untuk mengatur hal itu,” pungkas Irman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons