KEPERCAYAAN BERLEBIH, WANITA MEKSIKO DUEL BERDARAH UNTUK PANGGIL HUJAN

Banyak sekali ritual memanggil hujan dengan cara unik, namun kadang ritual tersebut terkesan berlebihan dan tidak masuk akal dan dalam Islam tentu ini sudah diluar tuntunan. Ritual memanggil hujan dilakukan karena daerah tersebut sedang paceklik namun sebanyak ritual pemanggilan hujan tersebut mungkin ritual di Meksiko lah yang dirasa unik dan mungkin berlebihan bagi pandangan beberapa orang. Ya ritual unik untuk mendatangkan hujan digelar warga Nahua, Guerrero, Meksiko. Yaitu ketika Perempuan Nahua harus melakukan gulat atau duel hingga berdarah-darah untuk memohon hujan agar segera turun.

Ritual adu jotos di Nahua ini harus berakhir hingga peserta berdarah-darah. Nantinya, darah peserta akan dikumpulkan dalam ember dan dipakai untuk menyirami perkebunan.

Darah tersebut dipercaya dapat menyuburkan buah dan sayuran serta untu memohon hujan. Ritual ini biasanya selalu diselenggarakan Mei.

Ritual dimulai dengan membawa berbagai macam makanan ke tempat adu jotos tersebut. Ketika semua orang telah datang, para wanita mulai mencari lawan yang seimbang untuk ditantang. Biasanya, wanita yang lebih tua menantang yang lebih muda untuk masuk arena pertempuran.

Wanita-wanita itu tak peduli dengan kemenangan. Yang mereka pedulikan hanyalah darah yang harus dikumpulkan.

“Ritual ini berasal dari masa panen jagung zaman dulu,” ujar Prof. David Delgado dari ChapingoUniversity yang telah belajar 12 tahun tentang tradisi perayaan panen.

“Orang-orang di sini membentuk tiga kelompok masyarakat dan jika salah satu dari mereka mengusik ladang kelompok lain, mereka akan berkelahi. Karena itu, mereka percaya jika Dewa Tlaloc (suku Aztec) mengambil hujan darinya,” lanjutnya seperti dilansir Huffington Post, mengutip Vice Magazine, Senin (29/6/2015).

“Dua dari kelompok itu akhirnya membuat kontes siapa yang bisa mengambil hujan kembali dari Tlaloc,” lanjut Prof. David.

“Jadi, mereka naik ke bukit namun kembali berkelahi. Dan perkelahian itu dipertahankan hingga sekarang. Mereka percaya, tiap tetes darah adalah tetesan air dan tradisi ini terus berlanjut.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015