Demam Batu Akik, Kinyang dan Satam Primadona Festival Belitung

Di Pulau Belitung, demam batu akik pun melanda pulau wisata yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Umumnya batu yang ditawarkan adalah batu kinyang asli Belitung.

Batu kinyang lazimnya ditemukan di Pulau Bangka. Namun ada pula di Pulau Belitung. Sebelum demam batu akik hadir di kalangan masyarakat Indonesia, Belitung sudah terkenal dengan batu satam. Batu unik yang ditemukan di Pulau Belitung ini dipercaya sebagai batu meteorit yang jatuh ke bumi.

Tetapi kini, batu satam ibarat memiliki pesaing ketat yaitu batu akik. Etalase pedagang-pedagang batu satam sekarang juga berisi batu-batu akik seperti bacan, giok, dan kinyang.

Bahkan, pedagang batu akik semakin banyak bermunculan di Belitung. Salah satunya Imam, bersama adiknya Firman, berjualan batu akik. Mereka baru saja berjualan dua bulan lalu.

“Selama ini jualannya kaus. Sekarang tambah batu akik. Kami berjualan di Jalan Veteran,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela sebuah festival bertemakan batu akik, di Tanjung Pandan, Belitung.

Ia mengaku ada sekitar 30 penjual batu akik di Belitung. Hanya saja berbeda seperti di Jakarta yang memiliki sentra batu akik di Pasar Rawa Bening Jatinegara, penjual-penjual batu akik di Belitung tersebar.

“Kami belum ada satu tempat khusus yang menyatukan kami sebagai pedagang batu. Masih tersebar,” katanya.

Batu yang dicari di Belitung biasanya batu kinyang. Batu ini tampil cantik dengan warna-warni yang indah.

“Setiap daerah punya warna tersendiri. Tidak akan sama. Seperti yang ini warnanya hijau, belum tentu hijaunya akan sama dengan di daerah lain,” jelas Firman sambil menunjukan batu kinyang koleksinya.

Selain warna hijau, tampak pula warna ungu, cokelat, hingga kuning. Jenis-jenisnya seperti kinyang air yang berwarna keputihan, kinyang bensin yang berwarna kekuningan, kinyang the dan kopi yang berwarna kecokelatan.

Menurut Firman, batu kinyang koleksinya berasal dari Belitung. Batu-batu tersebut cerah dan jernih. Ia menjual batu kinyang yang masih utuh namun sudah diasah maupun batu kinyang sudah terikat (dalam bentuk cincin).

“Harganya kalau yang belum terikat, mulai dari Rp 300.000,” katanya.

Sementara untuk cincin dengan batu kinyang harganya bisa mencapai satu sampai tiga juta rupiah. Harga batu kinyang akan semakin mahal tergantung keunikan warna, kerapian batu, dan motif batu. Semakin mahal pula bila pengikatnya memiliki ukiran yang cantik.

“Ini ada beberapa yang ikut dilombakan. Kalau sudah ikut lomba, jadi lebih mahal lagi,” kata Firman.

Kontes batu kinyang memang tengah digelar. Dengan Tema Belitong Ice Crystal (Kinyang) Festival digelar di pelataran parkir Grand Hatika Hotel, Tanjung Pandan, Belitung. Batu kinyang yang mengikuti kontes ini haruslah batu yang asli dari Belitung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons