Inilah Jenis Batu Akik ‘Black Aren’ Asal Cianjur

Fenomena batu akik menyeruak ke seluruh kalangan masyarakat. Maka tak heran ada beberapa jenis batu akik yang kian moncreng dari sisi harga, seperti batu akik ‘Bungbulang’ atau batu cheldony asal Garut, batu akik ‘Bacan’ asal Halmahera Maluku Utara dan batu akik ‘Rubby Sapphire’ asal Afrika.

Ketiga jenis batu akik tersebut kini lagi diincar para penggila dan penghobi batu akik dengan rela meregoh kocek hingga harga ratusan juta rupiah. Harga batu akik yang semula hanya dihargai bak goreng kacang, tapi kini harganya selangit.

Nah dari jenis batu akik tersebut, Kabupaten Cianjur juga memiliki jenis batu akik yang tak kalah dari segi bentuk dan keunikanya. Ada jenis batu akik ‘Black Aren’ yang kini sudah diolah oleh sejumlah pengrajin batu akik di RT 01/03 Kampung Bobojong Desa Cidamar Kecamatan Cidaun Cianjur selatan.

Bahkan keberadaan batu black aren ini bisa dibilang menghebohkan. Bagaimana tidak, batu yang diduga sudah ada sejak ribuan tahun ini dinilai memiliki nilai jual yang tinggi dan ciri khas yang unik melebihi jenis batu akik ‘Kalimaya’.

Penggiat batu sekaligus peneliti Endang Kartiwa menjelaskan, penemuan batu black aren di Cidamar sangat menghebohkan. Hingga orang dari luar pulau Jawa juga turut berdatangan ke Cidaun karena ingin tahu. “Batu tersebut diduga dari fosil pohon aren yang berusia ribuan tahun. Kami teliti black aren itu merupakan batu mulia, namun untuk memastikannya kami berencana menelitinya di laboratorium,” terang Endang.

Black aren, rencananya akan diuji kekerasan juga kekuatanya, sehingga setelah diuji lab bisa memiliki sertifikat dan legalitas yang jelas. “Black aren yang asli super itu berwarna hitam kemerah-merahan. Ada penggemar batu dari Jogya dan Lampung mereka suka. Mereka beranggapan, batu tersebut bukan sembarang batu, namun termasuk golongan batu jenis batu purba,” ungkapnya.

Terlebih Cidamar termasuk daerah penghasil pasir besi yang kaya akan kandungan mineral radioaktif, titanium, dan uranium. Sehingga baik black aren, berlian, dan aneka jenis batu mulia ada di Cidaun. “Saat ini kami tidak melakukan pengerukan, hanya pengamatan dari permukaan tanah namun sudah terdapat berbagai batu mulia. Kemungkinan besar di dalam tanah masih banyak batu mulia lainya,” jelasnya.

Pihaknya kini masih memikirkan aspek lingkungan, sehingga melalui Komunitas Black Aren Cidaun pihaknya tidak melakukan pengerukan bahan batu secara besar-besaran. “Saya pikir black aren ini hanya di Cidaun saja. Sehingga kita harus bangga memilikinya,” tuturnya.

Dijelaskanya, seharusnya Pemkab Cianjur bisa menyadari potensi sumber daya alam Cidaun yang berlimpah, dengan memberdayakanya. “Dengan pemberdayaan Cidaun ini, tentunya bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Sebenarnya masih banyak ditemukan jenis batu selain black aren, seperti kuning madu, pancawarna khas Cidaun, dan jenis batu mulia lainnya. Jelas ini merupakan potensi yang harus dikembangkan,” tuturnya.

Salah seorang pengrajin batu black aren Nurjaman (47) warga RT 01/03 Kampung Bobojong Desa Cidamar Kecamatan Cidaun mengaku, semenjak ramainya batu mulai di pasaran warga di Kampung Bobojong Cidaun baru menyadari, ternyata di daerahnya terdapat batu mulia yang langka.

“Batu tersebut ditemukan di permukaan tanah, dan kemungkinan besar terdapat di dalam tanah. Kami keterbatasan alat, sehingga pencarian batu ini sangat terbatas,” ungkapnya.

Batu black aren merupakan batu tipis hitam kemerah-merahan, secara kualitas jika dirawat dengan baik banyak yang beranggapan lebih baik dari kalimaya dan black opal. “Kami belum bisa mematok harga, karena harus diuji di lab, saat ini baru ada empat jenis, sesuai usia dan kualitas juga,” ungkapnya.

Menurutnya di Cidamar sendiri ada dua tempat pengrajin batu, semuanya swadaya. Tentunya, diharapkan pemerintah bisa lebih peduli lagi, sehingga keberadaan Cidaun bisa lebih terperhatikan. “Jelas ini merupakan potensi dan peluang, sangat sayang sekali jika tidak dikembangkan. Kami harap Cidaun ini, bisa seperti daerah Garut yang begitu baik dikembangkan para pengrajin batu,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Data Potensi Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur, Aris Firmansyah mengaku, terkait perizinan penambangan batu akik jenis ‘Black Aren’ asal daerah Cidaun dan Agrabinta dirinya belum tahu sama sekali.

Pasalnya sejauh ini belum ada laporan terkait keberadaan jenis batu tersebut. “Terus terang saya belum tahu bahwa di daerah Cidaun dan Agrabinta ada penambangan batu akik, tetapi saya akan cek ke lokasi terkait kebenaran ada penambangan itu,” akunya.

Jika saat ini perizinan penambangan batu akik jenis ‘Black Aren’ belum memiliki izin resmi dari PSDAP. Lantaran para penambang belum melaporkan adanya penambangan jenis batu tersebut. “Biasanya kalau ada orang yang ingin melakukan penambangan pasti kami akan mengetahuinya, jika hal itu tidak ada maka ilegal dan bisa dijerat dengan Undang Undang Nomor 04 Tahun 2009 Tentang Pertambangan dengan sanksi 5 tahun penjara serta denda sebesar Rp10 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015