Batu Janggus, Primadona Batu Akik Sumatera Utara Mulai Langka

Ditengah demam batu akik yang melanda Indonesia, sejumlah batu mulia dari beberepa daerahpun mengemuka. Batu Bacan, Sungai Dareh, Akik Gambar, Opal Kalimaya, Giok Aceh masih menjadi perburuan para pembeli. Siapa yang sangka jika di Sumatera Utara ada juga jenis batu yang menjadi favorit para pecinta batu, yakni Batu Janggus. Meski belum sepopuler lima jenis batu mulia sebelumnya, namun Batu Janggus yang kini terancam langka, nilainya terus merangkak naik.

Saat ini, ada lima  jenis batu mulia yang paling banyak dicari. Batu bacan (Chrysocolla) adalah batu permata atau batu mulia yang berasal dari Pulau Kasiruta, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Batu  Idocrase dari Sumatera Barat dikenal sebagai Sungai Dareh dan di propinsi Aceh dikenal dengan Giok Aceh atau nephrite Aceh, Batu Kalsedon banyak dihasilkan di Jawa Barat dan Sulawesi Tenggara, Akik Gambar dari Pacitan, Jawa Timur dan Garut serta Nusa Kambangan serta Opal Kalimaya yang di Indonesia terdapat di Banten. Nah, Batu Janggus berasal dari Dusun Janggus, Desa Bukit Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat.

“Batu Janggus itu lebih keras dari batu lainnya, jadi bisa dibentuk menjadi banyak model seperti keris, kujang, karena saking kerasnya Batu Janggus dulu digunakan untuk memotong kaca, motifnya juga luar biasa, giok juga ada, akik gambar juga ada, bisa ribuan jenisnya,” ujar Ngatrin (60) yang akrab disapa Empu Janggus, saat pameran batu mulia di Paladium Jalan Kapten Maulana Lubis, baru-baru ini.

Batu Janggus memang unik.   Batu ini bisa menghasilkan Batu permata jenis Kecubung Ulung (kristal hitam mengkilat yang tidak tembus cahaya), Akik Lumut (Mose Agate), Akik Gambar (Sulaiman), Kayu Sempur (Petrified Wood atau fosil kayu yang telah berubah menjadi batu dengan usia jutaan tahun), Serat Nibung, Badar Tawon, Badar Lipan dan Bunga Tanjung ( Agatized Coral yang tercipta dari fosil batu karang laut), Kwarsa Bening (Silicon) yang biasa disebut sebagai Batu Kinyang, Kinyang Es, Kwarsa Asap, Kalsedon, Amber (Gondo Rukem yang berasal pembentukan dari sejenis getah yang mengendap di dalam air laut), Badar Perak, Badar Emas, Cempaka hingga Batu Teratai yang semuanya berkualitas tinggi.

Menurut Empu Janggus, yang lahir di Dusun Janggus I Desa Bukit Kertang, Batu Janggus sudah diangkut dari Dusun Janggus dan digunakan untuk keperluan pembuatan piring-piring sejak tahun 1960-an. Bahkan pada tahun 1970-an, Batu Janggus ketika dimulainya pengaspalan hotmix jalan raya Pangkalansusu-Pangkalan Brandan oleh pihak Pertamina menjadi  campuran aspal hotmix justru menjadi rebutan karena saat dipecahkan dengan menggunakan stone crusher (mesin pemecah batu tampak kepingan batu cincin yang beranekawarna.

“Heboh semua melihatnya, jadi pecahan-pecahan untuk aspal Hotmix itupun dicuri warga dari mana-mana, sampai akhirnya banyak orang berdatangan ke Janggus mengangkat batu ke Medan, Aceh sampai ke Riau, jumlahnya banyak sekali,” ujar Empu Janggus.

Tak heran, jika saat ini Batu Janggus di Dusunnya mulai langka. Empu Janggus mengaku menyimpan batu-batu Janggus dari rumahnya, halaman hingga Sungai Kodok yang kini jumlahnya cukup banyak dan bisa buat rumah.

“Dusun Janggus itu letaknya di pesisir, saya rasa dulunya daerah Bukit Kertang itu adalah muara karena tanahnya semua batu dari beragam fosil,” tutur Empu Janggus.

Menurut Empu Janggus, beda dari jenis batu lainnya Batu Janggus selain bahannya yang keras juga memiliki energi yang kuat. “Batunya memberikan kenyamanan, kalau cerita bisa diisi saya tidak paham itu, Cuma banyak orang yang memanfaatkannya juga untuk berkaitan mistik, kalau saya tidak paham,” tutur Empu Janggus.

Mengingat potensi batu akik Dusun Janggus cukup bagus, maka tidak mengherankan bila pada tahun 1990-an Pertamina Pangkalan Susu bersedia menjadi Bapak Angkat bagi pengrajin batu akik di Dusun Janggus.

“Tapi memang kurang promosi Batu Janggus ini, kalau batu-batu mulia yang popular itukan karena promosinya bagus, padahal sekarang sudah terancam langka, sudah susah dicari di Janggus,”tambah Empu Janggus yang bertugas sebagai Master Batu Janggus di perkampungan Majelis Taklim Fardu Ain (MATFA) Indonesia di Bukit Tua, Dusun III Desa Telaga Said Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015 Frontier Theme