BATU AKIK GAMBAR SEMAR MILIK BUPATI BOJONEGORO LAKU 3 JUTA

Banyak motif akik yang bergambar dan gambar yang dihasilkan bukan karena dibentuk sendiri oleh pengasah batu akik melainkan batu tersebut sudah terbentuk karena hukum alam karena adanya zat-zat yang terkandung dalam batu tersebut. Gambar yang dihasilkan juga biasanya langkah atau tidak sama dengan motif-motif dari batu yang satu ke batu akik yang lain. Dan untuk harga sudah pasti batu akik yang bergambar akan memiliki harga yang di atas rata-rata.

Seperti batu akik bergambar tokoh pewayangan Semar milik Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, laku Rp 3 juta saat dilelang. Lelang akik milik Bupati Suyoto itu menjadi pembuka Festival Watu Aji Nusantara di Gedung Serbaguna Bojonegoro, Kamis, 9 April 2015.

Pemenang lelang ialah Mohammad Subkhi, seorang pengusaha di Bojonegoro. Dari hasil lelang tersebut, 30 persen disumbangkan ke panti asuhan. Adapun sisanya diberikan kepada panitia kegiatan Festival Watu Aji Nusantara, yang berlangsung pada 9-12 April 2015 dan dibuka oleh Suyoto sendiri.

Dalam sambutannya, Suyoto mengatakan akik bergambar Semar merupakan motif langka yang dia yakini tidak ada duanya. Tokoh Semar dijadikan maskot karena dalam pewayangan merupakan penjelmaan Dewa Ismaya.

Karena itu, wajar jika proses pembentukan batu tersebut memerlukan waktu lama. Menurut Suyoto, batu akik miliknya tersebut berpasangan dengan Watu Semar dengan berat sekitar 80 ton, yang kini dipasang di Alun-alun Kota Bojonegoro. “Filosofi Semar yang rendah hati patut ditiru,” ujarnya.

Suyoto juga menyebutkan potensi batu akik di Bojonegoro tak lepas dari latar belakang daerah tersebut. Menurut sejarah, kata Suyoto, proses pembentukan daratan Bojonegoro butuh waktu 27 juta tahun. Dia merujuk pada kajian geologi yang memperlihatkan bahwa struktur tanah Bojonegoro merupakan kapur.

Karena itu, ujar Suyoto, banyak batu akik ditemukan di dataran tinggi sebelah selatan Bojonegoro. Di antaranya di Kecamatan Sekar, Gondang, dan Temayang. “Kabupaten ini kaya bebatuan mahal,” tuturnya.

Festival Watu Aji Nusantara diikuti lebih dari 50 peserta dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan luar Jawa, termasuk Aceh. Wanto, 33 tahun, seorang peserta pameran asal Bojonegoro, mengaku senang dengan digelarnya festival ini.

Paling tidak dia bisa membandingkan koleksi tujuh akik miliknya dengan batu akik dari luar Bojonegoro. “Wah, jadi bisa untuk perbandingan,” ujar lelaki yang juga pegawai negeri sipil ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons