ASOSIASI AWASI PEREDARAN BATU BACAN DI HALMAHERA

Maraknya transaksi penjualan batu bongkahan akik seperti bacan di Halmahera kini mendapat pantauan dari Asosiasi Penambang, Pengrajin dan Pengusaha Batu Permata (Aspebrata) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara (Malut), mereka meminta pemda setempat melakukan pengawasan terhadap kegiatan transaksi batu bacan yang dilakukan oleh pembeli dari luar Malut.

Asosiasi ini berharap transaksi penjualan batu akik tidak mematikan pemasukan daerah (PAD). Mereka tidak ingin masyarakat pendatang yang datang ke desa Doko dan Palamea hanya mementingkan diri dan bisnis sendiri. Begitupun dengan penambangnya, Akmal Iskandar Alam, di Ternate mengungkapkan, penambang batu bacan di Kecamatan Kasiruta sampai saat ini masih berjalan namun transaksinya belum terkontrol dengan baik dan terkesan ilegal.

Ketua Aspebrata Halsel,  juga mengatakan “Ini jelas daerah dirugikan, sehingga kami dari Aspebrata Halsel meminta Pemkab Halsel secepatnya mengeluarkan Perbup soal pengawasan transaksi batu bacan,” katanya. Pantauan Antara, transaksi jual beli batu bacan di depan Masjid Almunawar, Kota Ternate ramai pengunjung, karena lokasinya yang tepat di depan jalan utama sangat strategis.

Sehubungan dengan itu, kata dia, Pemkab Halsel perlu secepatnya mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) soal pengawasan kegiatan transaksi batu bacan yang melindungi pengusaha lokal dan sekaligus memberi pemasukan bagi kas daerah.

Ramainya transaksi di lokasi itu membuat para penjual batu mulia di lantai 3 Pasar Gamalama mengeluh karena sepi pengunjung. “Para pengunjung, terutama yang sudah usia lanjut, enggan menaiki tangga sampai ke lantai 3. Dengan adanya tempat jual batu mulia di depan Masjid Almunawar, pasar ini semakin sepi pembeli,” kata seorang pedagang batu mulia di Pasar Gamalama. Ia mengaku keuntungannya juga menurun.

“Biasanya sehari bisa dapat untung Rp 1 juta dari menjual batu seharga Rp 75.000 hingga Rp 100.000. Tapi sekarang jauh berkurang,” katanya. Sementara itu, Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Halsel, Daud Djubedi, ketika dikonfirmasi, menyatakan, pihaknya telah mengeluarkan Perda mengenai larangan bagi pedagang maupun penambang yang menjual bongkahan batu bacan ke luar daerah, karena dikategorikan sebagai tindakan melawan hukum.

“Kami telah menempatkan petugas di kawasan batu bacan seperti Desa Doko dan Palamea, sehingga transaksi batu bacan bisa diatur sesuai dengan Perda. Para penambang dan pedagang saat transaksi juga harus mengalokasikan keuntungannya bagi desa setempat untuk dimasukkan dalam potensi desa dan PAD,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons