BERBURU BATU MELING DI SUNGAI KLAWING PURBALINGGA

Mentari sudah tak lagi terik selepas azan Zuhur di tepi Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah. Kala itu, Dea (19), pemuda asal Bukateja, Purbalingga, nampak asyik menggali bebatuan di tepi sungai yang berhulu di gunung tertinggi Jawa Tengah, Gunung Slamet.

“Ini lagi mencoba mencari-cari, tadi pagi banyak sekali warga yang mencari batu di sini,” ucapnya sembari tangannya sesekali mengangkat beberapa batu kehitaman dari dalam sebuah lubang yang dibuatnya di tepi sungai.

Tak mendapat yang diinginkannya, batuan sungai tersebut dilemparkannya ke arah gundukan kumpulan batu yang tak terhitung jumlahnya. Aktivitas tersebut terus berulang, sembari sesekali pandangannya terfokus ke arah telapak tangan yang menggenggam bebatuan dari lubang yang dibuat sejak beberapa jam lalu.

“Saya datang kesiangan, mungkin kalau datang agak pagi bisa dapat lebih banyak. Saya baru dapat segini saja,” seraya menunjuk tiga batu kecil berukuran satu ruas jari.

Walau sudah mendapat beberapa batu yang bakal dibawa pulang, dia mengaku tidak mengetahui jenis bebatuan yang didapat dari pencariannya. Meski begitu, diakui Dea, batu yang didapat dari Sungai Klawing yang berada di Kecamatan Kaligondang lebih baik dari batu yang didapat dari aliran Kali Kacangan yang berada tak jauh dari rumahnya.

“Lebih bagus di sini (Sungai Klawing) daripada di sana,” tuturnya.

Dea tak datang sendiri. Dia datang bersama ayahnya, Rudi (40) yang sedang menggali lubang tak jauh dari tempatnya. Sesekali suara batu beradu terdengar nyaring dari arahnya.

“Untuk memeriksa bagus atau tidak, ujung batunya dipecahkan biar kelihatan di dalamnya ada motif atau tidak,” ujarnya memberi tips cara mencari batu di Sungai Klawing.

Menurutnya, bebatuan di Sungai Klawing berbeda dibanding batu di sungai lain. Rudi menuturkan, bebatuan di Sungai Klawaing beberapa memiliki warna yang menarik.

“Seperti ini, warnanya agak kehijau-hijauan,” katanya menunjukkan batu berwarna kehijauan sebesar kepalan tangan anak kecil.

Rudi pun tak mengetahui jenis batuan yang didapatnya dari Sungai Klawing. Tak jauh dari Rudi, Reban (65) yang kesehariannya bekerja menggali pasir dan batu, sesekali memperhatikan batuan yang didapat dari dasar tepi sungai. Meski bekerja menjadi penggali batu dan pasir sungai, Reban tak menampik kerap mendapat bebatuan yang dianggap menarik warga.

“Biasanya, kalau batunya berwarna dan menarik saya pisahkan dan ditaruh di ember. Kalau ditaruh di ember, ada saja warga yang datang melihat-lihat dan membeli batu yang dianggap menarik. Kalau sudah seperti itu, biasanya saya lepas seharga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” ucapnya dalam bahasa banyumasan.

Sebelum tren batu akik klawing merebak, Reban mengaku kerap mendapatkan batu tersebut. Namun, bebatuan tersebut tidak selalu dibawanya pulang. Tetapi sejak tren batu klawing merebak, dia mengaku menyimpan batuan yang dianggapnya menarik.

“Di rumah mungkin ada dua karung yang saya simpan,” jelasnya.

Reban mengaku tidak tertarik untuk beralih pekerjaan menjadi pencari batu klawing. “Dulu pernah ada yang meminta saya bawa batu yang di dapat dari sini (Sungai Klawing), tetapi ternyata tidak menghasilkan, sejak itu kalau ada yang ingin melihat batu klawing mending orangnya saya suruh datang saja ke rumah,” katanya.

Menurut seorang pedagang batu Klawing, Rosa Redita (34), tidak semua batu dari Sungai Klawing bisa dijadikan batu hias. Diakuinya, untuk mendapat batu yang akan dijadikan aksesoris tersebut butuh ketelitian lebih khusus.

“Kalau ingin membeli batu klawing dari pencari harus diketahui dulu asal wilayah pengambilannya dan dilihat juga bentuknya,” ucapnya.

Diakuinya, memang banyak metode yang digunakan untuk mencari batuan khas Sungai Klawing yang digemari masyarakat. Menurut lulusan jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman ini, jenis batuan yang digemari pecinta batu hias saat ini berjenis Nagasui dan Pancawarna.

“Sekarang mungkin agak sulit mendapatkan batu tersebut di tepi, biasanya banyak yang mencari di tengah sungai dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan paralon, ada juga yang menyelam menggunakan kacamata renang di tengah sungai,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons