ANAK SD PUN TAK MAU KALAH DENGAN ORANG DEWASA MENJADI KOLEKTOR BATU AKIK

Ribuan orang dewasa berdesak-desakan. Mata mereka melirik tajam dan melihat dengan saksama bongkahan batu-batu akik yang belum jadi atau yang sudah berkilau.
Bukan hanya batu, para pria pencinta batu akik ini juga terkadang mencari cincin emban yang dijual di Gemstone Festival di Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Namun, di antara kerumunan para pria dewasa, segerombol anak-anak kecil yang beberapa masih memakai celana sekolah ikut berdesak-desakan.

Pada festival batu akik yang digelar sejak 24 Februari hingga 6 Maret 2015 ini, mereka berseliweran mencari cincin emban untuk mengikat batu akik milik mereka agar terlihat lebih cantik. “Batunya enggak tahu jenisnya. Dikasih sama bapak,” kata Teddy Alamsyah (11), yang datang bersama teman-temannya seusai pulang sekolah.

Untuk sebuah cincin emban berbahan dasar titanium yang akan dipasangkan dengan batu warna merah miliknya, Teddy harus merogoh kocek Rp 40.000. “Sengaja nabung dulu dari uang jajan. Satu hari seribu,” ujar dia.

Tidak hanya satu, Teddy ternyata memiliki tiga batu akik. Meski tidak tahu jenis-jenisnya, dia mengaku paling menyukai batu berwarna merah darah yang juga pemberian ayahnya. Batu-batu yang sudah berpasangan dengan cincin, kata Teddy, tidak ada niatan untuk dijual. Dia sengaja menyimpan batu-batu akik tersebut untuk koleksi.

“Kadang-kadang ngumpulin juga buat beli batu dari uang jajan. Suka batu karena kan emang lagi populer. Batunya bukan buat dijual, melainkan buat koleksi aja,” kata dia.

 

Karena jaman sekarang dimana-mana orang-orang sudah pakai batu cicin di jarinya, jadi seneng aja gitu lebih pede kalau sudah pakai batu.

 

“ Tak hanya itu orang tua wajib waspada terhadap anak-anaknya salah-salah anaknya bukan sibuk belajar malah sibuk berburu batu, karena fenomena batu sedang meraja lela di indonesia. Tua muda hingga pelajar SD tak luput dari BATU AKIK.

 

Kemudahan mencari bahan dan harga yang lumayan terjangkau yang dipatok oleh para pedagang batu sebagai pemicu anak-anak kecil mampu mengikuti tren kalangan orang-orang dewasa saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons