KISAH POLISI YANG TINGGAL DI KANDANG SAPI

Saya mampu jadi polisi, walau tinggal di kandang sapi dan berasal dari keluarga miskin. “Bapak tampar pipi saya. Ini bukan mimpi toh. Saya benar diterima menjadi polisi”. Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Bripda M Taufik Hidayat kepada ayahnya, Triyanto, saat pertama kali tahu kalau dia lulus menjadi calon anggota polisi.
Itulah Triyanto, yang terlahir dari keluarga kurang mampu dan bercita-cita besar untuk menjadi polisi sejak kecil. Perjuangan kerasnya kini telah tercapai. Mari kita dengar cerita masa lalunya. Triyanto dulu adalah seorang buruh bangunan. Pendapatannya pas–pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat duduk di bangku SMP, Bripda Taufik harus menerima kenyataan pahit. Kedua orangtuanya bercerai. Rumah satu-satunya pun dijual oleh sang ibu.
Saya bantu bapak menambang pasir di Sungai Gendol. Ya untuk biaya hidup dan biaya sekolah saya dan adik-adik,” ucapnya.
Karena itu, demi dapat menyelesaikan sekolahnya dan membantu keuangan keluarga, Taufik rela ikut bekerja sebagai tukang gali pasir di Sungai Gendol.
Kisah dirinya terus berlanjut ketika ia memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi seorang polisi.  Ia membulatkan tekadnya untuk mendaftar sebagai calon anggota polisi di Mapolda DIY. Berkat kerja keras dan doa sang ayah, pada akhir Desember 2014 Taufik lulus dari tes Calon Anggota Polisi dan mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara Selopamioro, Imogiri, Bantul.

Saat ini, Setelah lulus dengan pangkat Bripda, Taufiq menjalani karier pertamanya di Direktorat Sabhara Polda DIY. Namun, lagi-lagi karena tidak punya biaya dan kendaraan, setiap pagi saat berangkat dinas, Bripda M Taufik Hidayat harus rela berjalan kaki sekitar 7 kilometer dari rumahnya di Dusun Jongke Tengah RT 04 RW 23 Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, menuju Mapolda DIY.
“Bangun subuh, salat, lalu jalan kaki ke Mapolda DIY. Kadang kalau pas ketemu teman ya bonceng,” tuturnya.
Karena uang tidak mencukupi untuk membeli rumah, Triyanto selaku ayah memutuskan untuk mengontrak bekas kandang sapi di Dusun Jongke Tengah. Kandang sapi itu kemudian dialihfungsikan sebagai tempat tinggal.

“Per bulan bayar Rp 170.000. Ya memang seperti itu kondisinya. Lantainya masih tanah,” ucap Triyanto.
Rumah semipermanen berukuran 2,5 m x 5 m kondisinya memang memprihatinkan. Bahkan karena belum ada biaya, daun pintu dan dinding sisi utara dibiarkan terbuka. Untuk mengurangi embusan dingin udara malam dan tetesan air hujan, terpaksa pintu dan sisi yang masih terbuka ditutup dengan mengunakan spanduk-spanduk bekas.
Di dalam rumah semipermanen itu hanya ada dua kasur tempat tidur. Dua kasur dengan kodisi berlubang itu dipakai oleh lima orang, yaitu tiga adiknya, ayah, dan dirinya. Bahkan, ketika Bripda Taufik tidur di rumah, Triyanto mengalah untuk tidur di mobil pikap beralaskan tikar dan beratap langit.

“Saya senang kalau piket dan tidak pulang. Soalnya kasihan bapak kalau tidur di luar. Bapak sering mengalah tidur di bak mobil,” kata Taufik.
Melihat keadaan itu, di gaji pertamanya menjadi anggota kepolisian, Taufik berencana akan menggunakannya untuk mengontrak rumah yang lebih layak. Ini dilakukan demi ayah dan ketiga adiknya yang masih kecil-kecil.
“Nanti kalau gajian pertama, saya ingin gunakan untuk mengontrak rumah. Kasihan bapak dan adik-adik kalau tetap tinggal di sana,” tuturnya.
polisi kandang sapi (1)

polisi kandang sapi (2)

Updated: January 15, 2015 — 4:09 pm

Comments

Add a Comment
  1. Jooss tenan kuii kang..nek tenan koyo ngunu ora nganggo suap” nganti 250 jt..gex ndang gawe omah kang njaluk karo komandanne hhe kidding

  2. Semoga pekerjaanmu tulus mebgabdi pada keluargamu dan negaramu..selalu jujur seperti yang tergambar

  3. Salut untuk bribda taufik…. tugas kita sebagai manusia hanya berusaha, jangan mengeluh dan berdoa kepada Allah SWT, selebihnya serahkanlah pada Allah…biar Allah yang ngatur… Ndak ada yang ndak mungkin bagiNya…

  4. SaluT,teringat dengan nasib ku juga.. Jadi termotivasi,semua memang harus dengan kerja keras dan kesabaran. Sukses

  5. Yg sekarng aku jalani seorang oG disebuah pT.demi membiayayi kuliah yg aku jalani saat ini,sangat termotivasi dengan adanya berita ini.jadi lebih Semangaat untuk menjalani semuanya.terimakasihh

  6. makanya yang mesti di berantas itu mafia penerimaan calon polri tni pegawai negri, kalau yang masuk sudah nyogok ratusan juta. maka hasilnya orang kaya dan belagu semua yang berseragam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons