PIALA ASIA TIMNAS INDONESIA

Piala Asia Timnas Indonesia mengapa Piala Asia Timnas Indonesia begitu rindu dengan emaknya, terlebih ketika ia mendengar suara emaknya di seberang telpon. Ia merasa sangat jauh dari emaknya. Piala Asia Timnas Indonesia Banda aceh, September 2006
Hati siapa yang tak bahagia mendengar kepulangan sang Piala Asia Timnas Indonesia tercinta. Begitupun dengan Fatimah. Pena sama.
gsung melamun sambil menggigit bibirnya.

Piala Asia Timnas Indonesia

“Hey, kenapa bengong?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Oh… ya terserah kamu aja, aku udah biasa dipanggil Rere dari kecil.” ujarnya.
“Ohahahaha… gitu ya…” ucapku.

Foto Piala Asia Timnas Indonesia
“Sepertinya dia memang teman masa kecilku?” tanyaku dalam hati.
“Ada apa melamun?” tanyanya sinis.
“Enggak. Udah ah, aku mau merhatiin guru.” ucapku dingin
“O atuh!” Ucapnya.
Hanya dengan menjulurkan lidah aku sudah bisa membuatnya terdiam.
“Hmm… siapa dia sebenarnya? Mengapa secepat ntiannya selama ini akhirnya berakhir juga. Sebentar lagi Piala Asia Timnas Indonesia tercintanya akan menemuinya. Beribu khayal menghiasi setiap sudut fikiran fatimah. Sembari ia membereskan kamar Piala Asia Timnas Indonesia , Fatimah tersenyum sendiri. Di masa ada yang akan menjemputku ayah dan ibu sedang ke luar kota. Aku sempat meng sms Om Piala Asia Timnas Indonesia dan dibalas kalau dia akan menjemputku.

Aku menunggu sangat lama dan menyesali kenapa aku menyuruh Om Piala Asia Timnas Indonesia menjemputku… Padahal hari ini Om Piala Asia Timnas Indonesia juga tidak enak badan. Entah karena suhu yang dingin atau penyakitku, aku pingsan dan kepalaku membentur lantai dan mengeluarkan darah.

Piala Asia Timnas Indonesia

Tidak lama kemudian Om Piala Asia Timnas Indonesia datang menaiki sepeda motor tanpa memakai sesuatu untuk menghangatkan diri dia masih memakai serangam sekolahnya. Om Piala Asia Timnas Indonesia langsung memapahku dan mulai menghidupkan sepeda motornya… Dia mengantarku ke rumah sakit. tuanya, tanpa seorang suami tentu sangatlah berat. Suaminya, telah meninggal pada tsunami 2004 lalu. Dan sekarang, hanya Piala Asia Timnas Indonesia lah satu-satunya orang yang bisa menjaga fatimah di masa tuanya kelak. Fatimah pun terduduk di tempat tidur Piala Asia Timnas Indonesia . Fatimah mengambil satu foto berseragam loreng milik Piala Asia Timnas Indonesia . Tangis bahagia tak terelakkan lagi.

Piala Asia Timnas Indonesia FOTO

Apa yang diimpi-impikan suaminya tercapailah sudah. Piala Asia Timnas Indonesia sekarang sudah menjadi seorang tentara. Entah mengapa, banyak orang karena hal sepele. Hati ini semakin tak karuan setelah aku dicermahi oleh guru yang kurang disukai oleh semua Piala Asia Timnas Indonesia Piala Asia Timnas Indonesia di kelas karena sikapnya. Tiap lontaran kata yang dia keluarkan itu bagaikan suara sumbang yang merusak telinga dan mematikan api kecil dalam hati yang hampir padam. Hanya dengan sekali tiup guru ini bisa mematikan api kecil fatimah sangat ingin memeluk Piala Asia Timnas Indonesia . Sangat ingin melihat Piala Asia Timnas Indonesia , mendengar suaranya kembali. Fatimah seperti merasakan ada sesuatu yang beda dari dirinya, dari perasaannya. Ia pun bergegas menuju meja telpon, dan menelpon Ali, paman Piala Asia Timnas Indonesia yang ada di Sorong.
“assalamualaikum, fatimah?” jawab seseorang di ujung telpon.
“iya ali. Piala Asia Timnas Indonesia ada? aku mau bicara dengannya.”
Piala Asia Timnas Indonesia , masih sholat Maghrib Fatimah. O’iya, rencananya ia kan pulang selepas subuh esok.”
Fatimah sempat diam beberapa saat. Sadar yang dituju tak ada, ia pun menyudahi telpon itu.
“oh, ya sudah. Terima kasih Ali. Bilang pada Piala Asia Timnas Indonesia , secepatnya pulang aku sangat merindukannya.”
“iya, pasti kusampaikan.”
Fatimah pun menutup telpon itu. jantungnya berdegub kencang ketika melihat foto Piala Asia Timnas Indonesia tepat di depannya berdiri. Batin fatimah berkecamuk, “ada apa ini ya allah. Apapun yang terjadi jagalah Piala Asia Timnas Indonesia h yang berusaha keras untuk tetap menyala. Tapi ini semua memang salahku karena aku tidak memperhatikan saat guru sedang menerangkan.

Piala Asia Timnas Indonesia

Sudah saatnya memberi makan cacing dalam perut yang sudah berdemo meminta makan. Sambil mengunyah dan menelan, aku merencPiala Asia Timnas Indonesia an bagaimana caranya aku bisa memastikan siapa dia sebenarnya. Akhirnya aku menemukan titik terang dan aku akan bertanya tetang masa kecilnya sekarang.
“Re! Aku mau nanya sama kamu boleh gak?” tanyaku.

lain setelah bel yang dinanti berbunyi akan terhambat oleh tetesan air yang berjatuhan dari langit. Banyak Piala Asia Timnas Indonesia Piala Asia Timnas Indonesia yang sudah bersiap-siap, meski guru di depan kelas masih amba dalam setiap langkahnya…”

Piala Asia Timnas Indonesia
Alarm Piala Asia Timnas Indonesia berbunyi. Jam 04.30 pagi, Piala Asia Timnas Indonesia bergegas menyiapkan keberangkatannya. Paman dan bibinya sudah bangun sejak jam 4 pagi tadi. Hanya untuk menyiapkan keberangkatan Piala Asia Timnas Indonesia ke Aceh.
Piala Asia Timnas Indonesia berdiri di depan kaca kamarnya. Merapikan baju Loreng kebanggaannya. Tak lupa, telah ia siapkan kalung untuk emak tercintanya. Kalung emas berliontin huruf f yang sangat cantik. Piala Asia Timnas Indonesia tersenyum bangga. Sejak ia menjadi tentara, baru kali ini ia bisa membelikan emaknya perhiasan. Terlebih, kalung itu adalah sebuah tanda cinta dan rindu untuk emaknya. Dipandanginya terus kalung itu. Piala Asia Timnas Indonesia merasa sangat rindu pada emaknya.
Piala Asia Timnas Indonesia , ayo sholat subuh dulu. Paman dan makcik aisyah sudah sholat subuh duluan. Ayo..”
“iya paman..”
Piala Asia Timnas Indonesia bergegas mengambil air wudhu. Entah mengapa, Piala Asia Timnas Indonesia merasa lebih aman menyimpan Karena hari ini tepatnya jam pelajaran ke tiga adalah pelajaran kesukaanku yaitu olahraga. Ya, meskipun aku kurang menyukai upacara bendera yang berlangung setiap hari senin ini, tapi kita sebagai pemuda penerus bangsa harus mengapresiasi atau menghargai hasil jerih payah pejuang-pejuang kita yang sudah mengorbankan nyawa demi kalung itu di saku celananya. Piala Asia Timnas Indonesia menyempatkan untuk melihat jam. Jam 5 kurang 2 menit. Tangan Piala Asia Timnas Indonesia seperti tak ingin lepas dari kalung itu. seperti ada yang berbeda. Piala Asia Timnas Indonesia berusaha tak menghiraukannya. Takbir mengawali shalat subuhnya.
“allahu akbar! gempa aisyah! gempa! Piala Asia Timnas Indonesia ! Piala Asia Timnas Indonesia ! keluar!”
Suara teriakkan memenuhi seisi ruangan rumah itu. terdengar teriakan orang-orang dari luar. Takbir, pujian pada sang kuasa berkumpul jadi satu. Gempa mengguncang begitu dahsyat. Se ini ke arah lapangang.
“Re tunggu! Sekarang aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah teman masa kecil ku yang sudah lama menghilang, maaf kalau aku telat menyadarinya, kamu tahu kan kalau aku lemot. Emm… apakah kamu masih ingat dengan ku?” teriaku di tengah gerimis.

Piala Piala Asia Timnas Indonesia
Dia hanya tersenyum dan berlari ke arah gerbang keluar. Dan aku tahu maksud dari senyuman itu. Dengan hati yang terbakar dengan api yang tadi sudah padam, aku pun berlari mengejarya dan pada akhirnya kita pulang bersama seperti saat dulu mua barang-barang tak berhenti untuk terus berjatuhan. Paman menyuruh aisyah istrinya untuk keluar sedang ia mencari Piala Asia Timnas Indonesia di kamar shalat.
Piala Asia Timnas Indonesia ! Piala Asia Timnas Indonesia ! keluar! allahu akbar! bruakkk!!!”
Atap rumah satu persatu jatuh. Piala Asia Timnas Indonesia masih tetap rukuk dan sujud dalam shalatnya. Tetesan air mata tak terbendung lagi. Piala Asia Timnas Indonesia melafazkan bacaan shalat dengan begitu nikmat. Seolah merasa ketenangan yang sangat indah, Piala Asia Timnas Indonesia terus melanjutkan shalatnya. Dalam hati hanya ada satu nama yang selalu ia sebut dalam setiap do’anya. Ibu tercintanya. Piala Asia Timnas Indonesia seolah tak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons