SOLAR INDONESIA KUALITAS RENDAH!

Buruknya kualitas solar di Indonesia memang sudah banyak diperbincangkan, bahkan ada yang menyebut jika solar di Indonesia itu adalah solar ‘sampah’. asap angkotSaat dunia mulai melirik bahan bakar solar untuk menggantikan posisi bensin, Indonesia masih menggunakan solar kualitas rendah sebagai bahan bakar kendaraan yang ikut andil dalam menyumbang polutan di kota-kota.

Di Indonesia, jumlah kendaraan  (selain truk dan mobil angkutan) yang menggunakan solar masih sangat sedikit sekali. Hal tersebut bisa dimaklumi karena mesin berbahan bakar solar akan sangat sulit untuk meminum solar  ‘made in’ Indonesia.

Solusinya adalah menggunakan Pertamax Dex (solar non subsidi) yang harganya ternyata hampir sebelas dua belas dengan Pertamax Plus.

Seperti yang disampaikan Asdep Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Bergerak (PPUSB) Kementerian Lingkungan Hidup, Novrizal Tahar, di Halim Jakarta, Rabu 28/5/2014) melalui detik.com.

Banyak masyarakat yang tidak peduli dengan keramahan lingkungan dengan tetap memilih menggunakan bahan bakar minyak bersubsidi dengan kualitas buruk karena hanya harga yang ditawarkan lebih murah.

“Bahan bakar diesel (subsidi) kita terjelek di Asia, dan banyak pengendara diesel kita memilih untuk tidak menggunakan bahan bakar berkualitas seperti Pertamina Dex (Diesel) dan memilih untuk menggunakan solar biasa (non subsidi),” kata Novrizal.

“Berdasarkan penelitian kami, dari penduduk Jakarta mencapai 9.607.787 jiwa di 2010 dan sebanyak 57,8 persen yang berpenyakit akibat polusi udara. Memiliki total biaya kesehatan yang harus dibayar warga Jakarta mencapai Rp 38,5 triliun,” ujar Novrizal Tahar.
Dirinya menambahkan, polusi udara sangat berbahaya akibat kandungan sulfur di bahan bakar teramat tinggi. Sehingga berpotensi untuk meningkatkan parameter-parameter pencemaran udara seperti SOx, NOx, dan PM10.
Akibat dari polusi udara ini jelas bisa menimbulkan penyakit-penyakit Pneumonia, stroke, penyakit jantung, penyakit paru-paru kronis dan kanker paru-paru.
Seperti dikatakan sebelumnya, Tidak kurang dari 9.607.787 jiwa sebesar 57,8 persen penduduk Jakarta mengalami penyakit yang berbahaya. Seperti sebanyak 1.201.581 jiwa terjangkit penyakit Asthmatic Bronchiale, 173.487 jiwa terjangkit penyakit Brochopneumonia, sebanyak 2.449.986 jiwa terjangkit penyakit ISPA.
Tidak sampai disitu, sebanyak 336.273 jiwa terjangkit penyakit pneumonia, 153.724 jiwa terjangkit COPD penyakit paru kornik atau penyempitan saluran pernafasan, dan sebanyak 1.246.130 jiwa menderita Coronary Artery Disease (CAD).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

jurnalpagi.com © 2015
Show Buttons
Hide Buttons