DEFENSIVE MEDICINE, APA ITU?

Defensive medicine, apa itu? Dengan mencuatnya kasus dr. Ayu, mungkin teman-teman yang bukan berlatar belakang medis bingung dengan istilah defensive medicine. Apa itu defensive medicine?
Defensive medicine itu mulai dikenal pertama kali di Amerika Serikat, istilah defensive medicine muncul hampir berbarengan dengan istilah malpraktek. Ibarat kata, kedua istilah ini timbul berbarengan; dinegara yang terjadi malpraktek dan dokternya dihukum, disana akan muncul pula defensive medicine.

Mari kita lihat dokter-dokter di film Amerika (bukan dokter di sinetron Indonesia ya, hehe), sebelum mereka memastikan penyakit apa yang diderita pasien  (menegakkan diagnosis), maka banyak sekali pemeriksaan yang mereka laksanakan, mulai dari anamnesis ke pemeriksaan fisik, setelah itu harus periksa darah dulu, terkadang harus dilakukan pemeriksaan radiologi juga, ini, itu sampai jelas penyakitnya apa, lebih kurang itulah defensive medicine.

Mari kita baca kisah ini:
Cerita pertama:
Ada anak X yang datang dengan demam 3 hari. Dokter A langsung mendiagnosis anak ini curiga demam berdarah dengue dan menyarankan untuk langsung dirawat terlebih dahulu sampai terbukti anak X tersebut bukan demam dengue. Mengapa pasien ini harus dirawat? karena pada hari ke 4 -5 biasanya akan masuk ke fase syok, jadi dirawat saja dulu.
Setelah masuk keesokan harinya ternyata pasien masuk ke fase syok, walau sudah ditatalaksana sesuai prosedur ternyata akhirnya  anak X meninggal.  Orang tua anak X menuntut dokternya karena lalai tidak memperhatikan anaknya sehingga anaknya mati. Orang tua anak X juga menolak menyebut anaknya terkena demam berdarah karena tiga hari sebelumnya anaknya hanya demam biasa saja, tidak ada bintik-bintik merah seperti orang kena demam berdarah.
Akhir cerita, dokter A pun akhirnya dituntut dan masuk penjara karena kelalaian yang menyebabkan kematian.

Cerita kedua:
Anak Y datang dengan demam 3 hari. Namun dokter B cukup hati-hati dan tidak mau langsung merawat anak Y. Dia menjelaskan bahwa penyebab demam itu banyak sekali. Dokter B kemudian  menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mencari penyebabnya:

  • Pemeriksaan darah lengkap/trombosit/widal test : + Rp150,000 (lengan anak harus ditusuk jarum darah)
  • Apabila dari hasil darah, widal dan trombosit masih normal, maka dokter curiga ada kemungkinan TB paru maka dokter akan menyarankan untuk melakukan mantoux test.+Rp 100.000, lengan anak kembali  ditusuk.
  • Karena hasil darah normal, maka ibunya pulang dengan membeli obat dengan harga + Rp 100,000.

Keesokan harinya orang tua sang ibu membawa anaknya dengan lengan dan kaki dingin dan keluar darah dari hidungnya. Saat itu anak Y langsung dibawa ke UGD dan dilakukan pertolongan pertama,  namun terlambat, 30 menit kemudian anak meninggal. Ternyata sebelum anak meninggal, sempat dilakukan cek darah ulang dan hasilnya trombosit drop. Dari hasil darah tersebut dokter B menyimpulkan bahwa anak Y meninggal karena syok disebabkan demam berdarah.
Saat itu orang tua anak Y ingin menuntut dokter B. Dokter B disalahkan karena tidak mengatakan bahwa anaknya menderita demam dengue sejak konsultasi pertama, namun dokter B mengatakan dia sudah menjalan semua prosedur dan berhasil bertahan di pengadilan dengan menunjukkan semua hasil pemeriksaannya yang dilakukannya karena tidak satupun hasil tersebut yang mengarah ke demam dengue.

Nahhh… cerita kedua itulah yang disebut defensive medicine. Defensive medicine adalah kondisi di mana dokter hanya akan melakukan tindakan medis jika dokter sudah merasa benar-benar aman dan yakin bahwa tindakannya tidak menyebabkan dia masuk penjara.

Hal ini berpotensi merugikan masyarakat dan negara karena terbukti akan biaya kesehatan akibat peningkatan biaya pemeriksaan.  Bayangkan jika ada seribu anak Y yang diperiksa dengan cara dokter B?

Oh iya, sudah tau kenapa dokter A pada cerita pertama tadi menyarankan anak X langsung dirawat tanpa perlu cek darah dan lain-lain terlebih dahulu? Karena anak X demam pada bulan Januari, bulan antara Januari-Maret (musim hujan) adalah bulan dimana masa itu angka kejadian pasien yang dirawat dengan penyakit Demam Berdarah Dengue sangat tinggi. Oleh sebab itulah dokter A langsung menyarankan agar anak X dirawat.
Lalu, mengapa anak X bisa mati? Ternyata anak yang mengalami Demam Berdarah Dengue tidak semuanya bisa langsung membaik, sebagian kecil malah jatuh menjadi syok demam berdarah walaupun telah diterapi sesuai prosedur. Satu lagi, mengapa dokter A yakin bahwa itu demam berdarah? Ternyata anak Dokter A baru saja meninggal 10 hari sebelumnya  disebabkan oleh penyakit yang sama.

dokter demo defensive medicine

Loading...

7 Comments

  1. Menyedihkan memang klo sampai defensive medicine bener-bener akan dilakukan karena dokter kini tak mempunyai perlindungan hukum dan pemerintah tak punya empati kepada dokter.

    • masalah kasus ini hanya dua

      1. kurangnya komunikasi dokter-pasien
      2. ketidak-mampuan pengadil menganalisa lebih dalam kasus ini untuk mengambil keputusan

  2. Seperti yang dibilang narsum di Hitam Putih, kualitas komunikasi antara pasien dan dokter harus ditingkatkan. Setuju banget mas Hari. Kadang dokter jadi serba salah ya apalagi menghadapi pasien dengan sejuta karakter.

    • Om haryadi, bener banget, komunikasi adalah kunci utama. Namun bagaimana bisa melakukan komunikasi, jika perbandingan dokter: pasien saja bisa 1:50

      Indonesia kekurangan dokter, namun kekurangan ini tidak bisa secepatnya dipenuhi karena akan berefek pada penurunan kualitas dokter (kayaknya sekarang sudah mulai terasa penurunan kualitas tersebut)

      Pendidikan di dunia kedokteran juga belum menjadikan komunikasi sebagai salahsatu mata kuliah yang berdiri sendiri. Dokter diajarkan untuk menajamkan ilmunya dalam mendiagnosis penyakit tapi tidak diajarkan berkomunikasi, akibatnya banyak pasien yang mengeluhkan masalah komunikasi ini

  3. sungguh mengerikan, sy seorang dokter yg bekerja di daerah terpencil. sehari-hari sy mendiagnosa pasien dgn anamnesis, pemeriksaan fisik, kira2 sama dengan dokter A, mngandalkan pengalaman dan evidence base. mau lakukan defensive medicine spt dokter B, peralatan disini serba minim, air, listik, sinyal sj msh jsd masalh apalg sampe mau beli peralatan utk puskesmas. keknya sy berfikir utk balik ke kota lagi…

  4. Ceritanya berlebihan deh, pada kasus anak Y, tidak mungkin hasil pemeriksaan trombosit pertama hasilnya normal kalau kekesokan harinya Y sudah fase shock. Justru orang tua akan menuntut Rumah sakit. Mungkin doketrnya off the hook, tapi bagian lab akan tetap kena.

  5. Bu Eka,saya doakan semoga anak anda atau orang2 yg anda sayangi atau kalo perlu anda sendiri terkena demam berdarah yang akhirnya masuk fase dss (dengue syok sind) dalam waktu singkat. Sehingga anda sadar diri dengan komen anda yang sok tau itu. (nb: orang sok tau kalo mau disadarkan g bisa pake debat ilmiah atau apapun, cara terjitu ya dengan pengalaman “pait”)

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*