UNTUK APA SAYA MENULIS?

Enam tahun yang lalu saat saya baru lulus dari universitas, saya ditantang oleh Dosen saya; “Dalam waktu 3 tahun kamu harus sudah bisa bikin buku.”

Kalimat tersebut terus membekas di dalam kepala sehingga untuk mengejar target tersebut saya sempat-sempatkan untuk menulis di waktu senggang saya. Harus saya akui, dunia tulis menulis itu memang sangat menyenangkan, apalagi setelah beberapa karya tulisan saya berhasil dimuat di surat kabar dan majalah. Beberapa cerpen buatan saya juga berhasil memenangkan beberapa lomba tingkat regional dan tingkat nasional.

 Namun, dimuatnya karya di surat kabar, memenangkan sejumlah lomba malah membuat saya merasa ‘ketagihan‘ untuk terus menulis. Ketagihan di sini adalah keinginan untuk mendapatkan royalti dari koran dan hadiah sebagai pemenang lomba. Ternyata, ketagihan itu ada efek sampingnya,kenikmatan saya dalam menulis jadi hilang. Hilangnya ‘rasa nikmat’ itu justru dibarengi dengan rasa tidak enak sejak saya mulai dikejar-kejar kata ‘deadline’. (Ternyata dikejar-kejar oleh deadline itu sangat tidak enak sekali saudara-saudara, hehe).menulis untuk apa

Setelah merasakan betapa merananya saya oleh deadline dan rasa ketagihan itu, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan mulai menulis lagi demi kesenangan diri saya saja, mengeluarkan isi pikiran, opini dan pendapat yang terus bergolak di dalam kepala, memberikan sedikit informasi penting yang bermanfaat yang saya tahu untuk dibagi-bagikan kepada semua orang secara free. Tiga tahun itu sudah lama terlewati, ternyata saya gagal melakukan apa yang dikatakan dosen saya, tapi saya tidak kecewa, karena walau tidak berhasil membuat buku, tapi saya berhasil membuat sebuah blog yang bermanfaat.

Blog saya ini dibaca kurang lebih 1,000 orang perharinya. Berarti dalam satu bulan, lebih dari 30,000 kali blog ini dibaca orang. Sayangnya, blog tidak memberikan royalti seperti halnya buku. Padahal, jika blog ini berbentuk buku dan ternyata dicetak ulang, maka saya akan mendapatkan royalti lagi setiap kali cetak ulang. Dan ternyata, jadi penulis blog itu tetap ada penghargaannya. Walau saya hanya menjadi penulis lepas di blog saya sendiri, saya masih bisa mendapatkan sedikit royalti dari pemasang iklan dan alhamdulillah saya sudah beberapa kali merasakan royalti tersebut. Namun hal terpenting adalah untuk tidak merubah agenda lama saya, “menulis itu untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan bukan mendapatkan uang.”

Jadi, kembali pada diri kita masing-masing dan tanyakan, “Untuk apa saya menulis?”

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*